Sabtu, 01 September 2007

Perjalanan Malam Hari

SudutBumi, 16 Agustus 2006

sehari sebelum hari kemerdekaan tahun ini. apakah saya sudah merdeka? sepertinya belum!

masih punya banyak cerita terpendam akan yogya?

pertanyaan dari teteh membuah saya tersenyum, lebar sekali.

malam tanggal 2 agustus 2006 saya temukan dua bungkusan di tempat tidur. pertama, amplop coklat yang menggembung, kedua surat dari teteh. label bank jabar di amplop itu membuat saya bersegera membuka bungkusan. ternyata isinya kotak biru beludru yang berisikan plakat ucapan terima kasih atas keikutsertaan saya dalam lomba artikel. lomba kali ini saya kalah lagi. tak apa! bagi saya ini adalah sebuah proses dalam menulis.

malam tanggal 2 agustus 2006 adalah kepulangan saya setelah delapan hari saya berkunjung ke yogyakarta. sebuah perjalanan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. sekira pukul delapan saya dijemput wag dan sd di stasiun kiaracondong. seperti keberangkatan saya kemana pun, pulang selalu disertai banyak bawaan. seperti kali ini.

saya tak pernah menduga akan bertemu seseorang bernama it. saya tak pernah menduga, tak pernah menduga akan menggariskan suatu kenangan dengan sosok bernama it. saya tak pernah menduga. tak pernah menduga.

desember 2005 inbox email saya sudah dipenuhi suratsurat dari it, begitu saya memanggil dia. it yang memulai, merangkairangkai puisi saya, mengirimi saya suratsurat panjang. it yang memulai, menceritakan masa lalunya, memaparkan segala keburukannya, dan berbagai hal. it yang memulai. saya hanya menanggapi seumpama layaknya teman baru, seumpama penulis menyapa pembacanya, seumpama temanteman kampus. saya tanggapi emailnya, surat panjangnya, ceritaceritanya.

tak diduga, saya harus berangkat ke yogya. harus. dan semua kisah itu terangkum dalam benak saya, sampai saat ini. malammalam sebagai pejalan, malammalam tanpa tidur, malammalam yang patut dikenangkan.

malam 24 juli 2006

senin malam saya ditemani wag menuju stasiun kiaracondong. malam keberangkatan saya yang seorang diri menuju yogya, kota yang pernah saya singgahi waktu kecil. saya tak pernah lagi menjejakkan kaki ke yogya, dan malam itu banyak ketakutan menghampiri saya. dengan petunjuk yang diberikan bapak, dengan peta buta yang diberikan sd dan wag saya beranikan diri untuk datang ke yogya. saya diundang sebagai peserta workshop penulisan yang diadakan oleh lafadl dan desantara. sebuah komunitas yang bergerak dibidang cultural studies (cs). saya dipilih dari 57 pendaftar. seminggu sebelum keberangkatan saya sudah menghubungi temanteman di yogya. temanteman cwi. mereka semua siap menerima saya, menampung saya, dan menjanjikan suatu kenyamanan selama di yogya. saya berlega hati untuk tidak terlalu khawatir. tetapi untuk sebuah keberangkatan saya begitu berdebar, gemetar. malam keberangkatan menyebabkan perut saya sakit, mungkin karena tak biasa. mengantri membeli karcis berdua dengan wag. wag yang antri di depan saya meminta uang, saya keluarkan uang limapuluh ribuan. tak disangka wag membeli dua karcis, saya kaget, tak menduga. karena saya tahu wag tidak membawa persiapan apapun. karena rencananya hanya akan mengantarkan saya sampai stasiun. maka perjalanan saya tak sendiri, berdua dengan wag yang hanya tersenyum melihat kekagetan saya.

pagi 25 juli 2006~sekira pukul lima

saya telpon it melalui ponsel. it telah menyanggupi diri akan menjemput saya di lempuyangan, dan it tidak pernah tahu kedatangan saya ke kotanya diantar wag. ternyata dia masih di kosan, saya menunggu. tak berapa lama sosok itu muncul dan mencaricari saya. selama ini komunikasi saya dan it hanya berupa kata. kami tak pernah bertukar foto, tak pernah menjelaskan ciri fisik, tak pernah menyinggung soal wajah. saya pun menunggu sosok yang tak pernah saya tahu sebelumnya. mungkin berbeda dengan it yang telah melihat wajah saya di fotofoto yang dimiliki rl. foto ketika malam pembacaan puisi di selasar sunaryo bandung, seingat saya, saya pernah difoto. it juga pasti telah melihat foto saya di majalah horison. jadi ketika ada sosok lelaki menghampiri saya, pastilah dia it. dan benar it sempat bingung karena saya tak sendiri, tentunya dia mencari sosok perempuan yang sendiri bukan berdua seperti pagi itu. setelah bersalaman kami memutuskan segera menuju kosnya, di sana sudah ada sta, p, r, dll menunggu kedatangan saya. betapa kehadiran saya telah dinantikan banyak orang. dan saya tidak tahu apa yang sudah it ceritakan tentang saya.

kosan it ~sekira pukul enam

beberapa teman it sedang belajar, mereka mau masuk uin dan hari itu ujian masuknya. begitu saya datang semua bubar, saya ditemani p sedangkan it balik lagi ke stasiun untuk jemput wag menggunakan motor. tak berapa lamu sta datang. kami seperti sudah lama kenal, obrolan begitu saja menghilangkan lelah dan kantuk saya. wag datang. semua berkumpul di kamar it yang tak seberapa luas. gorengan dan teh hangat tersaji. sampai akhirnya kami harus berpisah, mereka semua harus pergi mengikuti ujian. tersisa aku, wag, dan it.

kamar sebelah~sekira pukul delapan tigapuluh

adalah mja yang karena gempa pulang ke rumah orangtuanya, kamarnya yang berada di sebelah kanan kamar it dibiarkan begitu saja untuk dipergunakan beberapa teman selama kepergiannya. sementara wag tidur di kamar it, aku dan it berdua di kamar ini. mendengarkan radio dan membaca beberapa koran yang berserakan. Aku berikan koran pikiran rakyat yang memuat puisi it, aku berikan pesanan yang dia minta sebelum keberangkatanku: beberapa pembatas buku, royalti pemuatan puisinya, cerpen terbaruku, dan aku juga memberikan pewangi ruangan beraroma apel padanya. di ruangan itu kami berbincang, melanjutkan beberapa hal yang sempat kami bahas di email, surat, dan sms. sampai pukul sepuluh kami ngobrol, datang am dan aku undur diri bersegera mandi. selanjutnya adalah perjalanan menuju tempat workshop.

it mengenalku sebagai sosok manja dengan segala keinginan yang harus dituruti. memperlakukan aku seperti anak sma, ya karena kemanjaan yang memang aku ciptakan dihadapan it. padahal aku bukanlah sosok manja, bahkan aku benci pada perempuan manja. tapi di hadapan it, manja itu tumbuh begitu saja.

pertemuan dengan it menghancurkan sedikit bayangan yang kucipta terhadap sosok yang maya ini. dalam bayanganku, it adalah seseorang yang sesuai dengan keinginanku. tapi pada kenyataannya, aku sedikit kecewa dengan apa yang ada dalam diri it. aku kecewa. tidak salahkan jika aku menciptakan sosok it sesuai keinginanku. setelah pertemuan itu aku harus menerima, ini adalah konsekuensi yang harus aku terima. mungkin hal ini sama dirasakan it. mungkin dia juga telah membangun sosokku di benaknya dan itu hancur setelah pertemuan. mungkin. aku tidak tahu.

siang hari~sekira pukul sebelas tigapuluh

setelah mandi, makan berdua, aku melanjutkan perjalanan ke daerah sinduharjo, ternyata letaknya berada di utara yogya dekat dengan merapi di jalan kaliurang. wag sementara ditinggal sendiri. beberapa hari sebelumnya, it telah menyurvei tempat itu. dan siang itu aku dibonceng motor menuju utara. it tahu aku phobia naik motor, dia dengan senangnya mempermainkan laju motor sedangkan aku berteriakteriak. di yogya jarang sekali ada kendaraan umum, saya jadi mengerti mengapa yogya penuh sepeda. dan saya terpaksa naik motor.

sav puskat~sekira pukul duabelas tigapuluh

di tengah jalan saya sudah ditelepon panitia, ternyata perjalanan yang sangat jauh menyebabkan saya terlambat beberapa menit. Sampai di sekretariat lafadl, saya berkenalan dengan seorang lakilaki yang menjadi penunjuk jalan ke tempat workshop. dari situ ke tempat tujuan jaraknya lumayan jauh, beberapa kali kehilangan jejak. akhirnya sampai juga di sav puskat.

tak disangka saya bertemu ta dari tobucil. ini sangat mengagetkan saya, karena setahu saya perwakilan kota itu hanya satu orang, ternyata bandung menghadirkan dua orang: saya dan ta. empatbelas orang lainnya perwakilan dari berbagai kota di diy dan jateng.

saya membiarkan it sendiri dan berkenalan dengan beberapa peserta lakilaki. setelah registrasi saya menuju kamar tidur, tak pernah saya sangka segala fasilitas yang disediakan. kamar tidur yang luas di anjungan rumah bergaya toraja.

beberapa peserta makan, berhubung saya masih kenyang saya memilih tidak makan dan menemani it sebelum dia pulang. it memperlihatkan koran jawa pos yang terdapat di ruangan itu, di dalamnya cerpen sta dan esai rm dimuat. tak berapa lama saya dan it harus berpisah, dengan perjanjian: tidak boleh telepon. ada sedikit kekecewaan di raut it karena saya melarangnya menelepon. saya hanya mengizinkannya sms, dengan alasan saya tidak mau terganggu dalam pelaksanaan workshop. karena dari awal pertemuan dengan rekanrekan panitia dan peserta, workshop ini serius.

ruang mawar~sekira pukul empatbelas

kami semua berkenalan, dari kota mana dan dari komunitas mana. saya mewakili menmonic. siang itu kami langsung dijejali materi tetang cs oleh st. s. itu semua membuat saya ngantuk, mungkin sama dirasakan beberapa peserta lain yang belum kukenal. apalagi materi ini baru bagi saya, cs, saya biasanya menulis puisi atau cerpen, sekarang saya harus bisa menulis hal kecil dari bebudayaan manusia. ya, yang utama dari cs adalah menuliskan bagian kecil dari peradaban/ kebudayaan manusia yang dapat menyejarah beberapa kurun waktu ke depan.

ruang mawar~sekira pukul sembilanbelas tigapuluh

setelah istirahat dari pukul empat sore sampai magrib dan dilanjutkan makam malam, kami semua berkumpul lagi di ruang mawar. kali ini ada dua pemateri yaitu hs dan ls, dengan materi menulis cs perlu menggunakan teknik penelitian. diskusi ini cukup lama, terjadi perdebatan seberapa penting penelitian dalam cs. larut malam, kami baru bubar dan masuk kamar masingmasing. besok pagi telah menanti pemateri ketiga.

ruang kepodang~sekira pukul sebelas

tidak langsung tidur, membereskan segala hal, cuci muka, ngobrol dengan dua peserta lainnya. namanya si dan el. si peserta termuda, dia kelahiran '87 sedangkan el beberapa tahun di atasku. Setengah duabelas malam masih sms-an dengan it setelah itu tidur.

pagi, 26 juli 2006

saya terbangun karena kaki saya kram. sakitnya minta ampun, mau apa lagi? saya cuma bisa mengaduh dan kesakitan dengan suara ditahan. tak mau mengganggu yang lain. mandi pukul tujuh tigapuluh, makan pukul delapan dan kembali ke ruang mawar. materi kali ini mempersoalkan budaya populer yang ada di yogya, pematerinya adalah dosen bernama su, masih muda, ganteng, tapi sudah beristri. beberapa tampilan tentang popularitas remaja yogya diperlihatkan, ideide kreatifnya hampir sama dengan budaya populer yang sedang berkembang di bandung. terjadi silang pendapat antara 'hurahura' dan hal yang dinamakan budaya populer. sampai siang hari debat kusir ini berjalan, jika tidak ada waktu istirahat mungkin akan terus berlanjut.

siang hari

saya mulai bingung memikirkan hal apa yang akan saya tulis. mulai sore ini akan dimulai pembahasan draf tulisan yang dibawa dari masingmasing kota. draf tulisan milik saya bawa ditolak oleh pemateri, terlalu banyak hal yang ingin saya ungkap. dan saya harus menuliskan tentang bandung, sebenarnya masalah menulis adalah soal gampang. tapi jika kita dihadapkan pada situasi yang berbeda dan terkesan dipaksa semuanya akan membuat pikiran buntu.

siang hari semua draf dibahas, mana yang cocok untuk cs dan mana yang tidak. banyak yang belum membawa draf kebingungan, beberapa orang hanya menyampaikan ide tulisan. it sms, memberitahkan kepulangan wag ke bandung setelah hari sebelumnya ketinggalan kereta. akhirnya saya benarbenar sendiri di yogya. dan kebingungan itu benarbenar mengganggu saya.

sore di kamar tidur

akhirnya it menelepon saya, larangan itu dilanggar juga. lebih baik tiduran daripada memikirkan hal yang tidak menemu ujung pangkalnya. yang lain mandi. saya terbangun karena sentuhan tangan seseorang di kening saya. saya kaget. ternyata mbak nu, salah satu panitia, dia mengira saya deman, saya bilang saja sedang stres, bingung mau nulis apa. ngobrol sana sini, waktunya makan malam.

ruang mawar~sekira pukul duapuluh

ini adalah malam pertama tulisan peserta dibantai. peserta pertama adalah fir dari purwokerto yang mengetengahkan persoalan bahasa daerahnya yang kini tak lagi dipergunakan. kedua peserta dari bogor yaitu as memaparkan tentang kondisi bogor yang makin sepi dari kegiatan seni. kedua tulisan dimentahkan oleh pemateri. hanya dengan pertanyaan "memangnya kenapa?" semua persoalan tak ada gunanya, ketika pertanyaan seperti "memangnya kenapa kalau bahasa purwokerto ditinggalkan? hilangnya bahasa daerah? tak jadi masalahkah." atau pada pertanyaan memangnya kenapa jika sepi dari budaya? pertanyaan sepele itu sepertinya menciutkan nyali seluruh peserta. tak ada yang dapat membela rekan kami sesama peserta. sampai larut malam, lebih malam dari malam sebelumnya.

kamis, 27 juli 2006

hari ini seluruh peserta wajib mengumpulkan tulisan dengan batas waktu jam tujuh malam. saya yang paling terakhir mengumpulkan tulisan. dari pukul tiga sore saya sudah duduk di depan komputer, selesai menulis pukul tujuh. bergegas ke ruang makan, semua rekan tersenyum melihat kedatangan saya. mereka menanyakan kabar tulisan saya. pukul delapan pembantaian itu dimulai.

saya menulis tentang tamantaman kota yang ada di bandung, kemudian menyisipkan mnemonic sebagai pengguna ruang publik. intinya saya memaparkan pemanfaatan salah satu ruang publik. tulisan saya benarbenar seadanya, tanpa data, tanpa pemikiran matang.

pembantaian itu cukup banyak menyoroti kelemahan tulisan saya yang terkesan sastra. cs sangat berbeda dengan sastra, begitu dipaparkan pemateri. memang benar saya lebih banyak menghadirkan suasana dalam tulisan itu. bagaimanan pun saya berangkat dari fiksi. Tapi saya berlega hati dapat menulis di bawah tekanan.

kamis pagi, empat teman kami lelaki semua kabur dari workshop tanpa izin. saya tidak tahu apa alasan mereka padahal tempat workshop sangat jauh dari jalan raya dan angkutan umum. kami harus jalan berkilokilo meter untuk mencapai kota. tapi begitulah, pagi hari mereka telah menghilang dan ketika ditelepon panitia mereka bilang pulang dan takkan kembali. jumlah lelaki berkurang sedang perempuan tetap bertahan empat orang.

jumat, 28 juli 2006

agenda hari ini adalah makan pagi, menulis/presentasi, makan siang, menulis/presentasi, istirahat, makan malam, dan terakhir presentasi. lagilagi saya mengumpulkan tulisan paling akhir. tulisan yang sama dengan kemarin tetapi telah ditambahkan saran dari pemateri. saya lebih divonis malam ini. ketika peserta lain menuliskan sesuatu yang berbeda sedangkan saya menuliskan hal yang sama. apalagi malam ini ta masih bertahan sampai larut malam, biasanya setelah makan malam dia pulang. yang lebih membuat saya jengah adalah ta salah mengarahkan jalan pikirannya. dia tidak paham ketika saya membahas permasalahan ruang publik, ta lebih mengarahkan pada mnemonic. seperti ada sesuatu ketika pertanyaanpertanyaan tentang mnemonic ta ajukan. tapi semua itu saya jawab semampu saya. malam ini adalah malam terakhir. malam yang melegakan ketika semua saling berkata maaf, berfoto bersama. besok adalah akhir dari workshop yang sudah saya duga akan menjemukan.

sabtu pagi, 29 juli 2006

pagipagi it membangunkan saya dengan smsnya. saya selalu bermalasmalasan jika bangun tidur, tidak segera beranjak mandi, apalagi ini adalah hari terakhir di mana saya harus menghabiskan suasana yang menyenangikan di area sav puskat. rimbun bambu yang bereneka jenis, berbagai tanaman obat, sungai, anjungananjungan. semuanya begitu singkat. setelah mandi saya bergegas makan, semuanya telah siap untuk pulang.

it tak kunjung datang untuk menjemput. saya telah sms, juga telah menelepon, tapi it sepertinya mempermainkan saya. saya mencoba tenang, mengambil semua barang, mengunci kamar kepodang. sampai di area parkir motor, seseorang berdeham dari belakang. it. sejak kapan dia ada di sana. pasti sedari tadi telah memperhatikan saya yang gelisah. memberikan kunci pada panitia dan memilih sebuah buku tentang budaya bugis, saya ingin memilikinya.

menunggu panitia mencari daftar harga, saya dan it menunggu di sebuah gezebo yang cukup luas. it membawa coklat yang saya minta, berbincang, dan menunggu waktu. memperlihatkan peta yogya yang hanya seukuran a4, memperkenalkan yogya dari gambar, di mana letak uin, kosan it, rl, piyungan, pantaipantai, ugm, dan beberapa tempat yang berhubungan dengan sastra.

lama. akhirnya panitia datang membawa buku. saya membayarnya dan selesai sudah keterikatan saya dengan workshop. segera tinggalkan sinduharjo. kami adalah orang terakhir yang meninggalkan puskat. naik motor dan segera menunju kosan it. diperjalanan it menunjukkan beberapa tempat yang telah dijelaskan menggunakan peta. melewati ugm, uny, jalanan yang tak begitu padat, terik matahari, uin, dan akhirnya sampai juga ke kosan it.

siang hari, kamar beraroma apel

sampai di kosan ternyata sedang ada acara nyewu. banyak ibu yang sedang sibuk memasak, menyiapkan segalanya. selamat datang di kamar paling nyaman sedunia, begitu it berucap ketika membuka pintu. aroma apel begitu saja menyerbu penciuman saya. bukubuku, posterposter, kipasangin, dan segala macam membidai penglihatan saya. sempat tak enak juga memasuki kosan lakilaki hanya berdua. temanteman it sedang tidak ada semua. akhirnya saya tidak keluar kamar, lebih memilih tidur setelah menguraikan rencana beberapa hari ke depan, sebenarnya saya tidak tahu kapan akan kembali ke bandung. malam ini saya akan tidur di rumah cerpenis mat. dia baru saja menikah dengan er. ketika saya tidur, it pindah ke kamar sebelah.

sore hari, jalanan yogyakarta

setelah ashar kami berangkat meninggalkan wisma poetika. it mengantarkan saya ke toko buku tm. saya ingin tahu toko buku seperti apa yang dapat menyaingi gm, toko buku yang saya tahu dari peserta workshop. ternyata toko ini sangat luas dan memberikan potongan harga untuk semua buku yang dijual. cukup lama kami di sana, saya membeli beberapa buku yang di bandung tidak ada, it hanya membeli dua buku puisi dan tiga komik.

tujuan selanjutnya adalah gm. di jalanan saya baru dapat menemukan suasana yogyakarta, sepedasepeda, busbus besar, gedunggedung yang retak akibat gempa bumi. beberapa mall dilewati, dan saya sempat mengutarakan keinginan saya untuk memasuki mallmall itu, tak terduga reaksi it atas keinginan saya. dia sangatsangat tidak menyukai mall, bahkan dia memilih membiarkan saya masuk mall sendirian dan it menunggu di parkiran. beberapa kali saya bujuk tetap saja, it bereaksi sama. di gm kami hanya melihatlihat setelah itu kembali mengarungi jalanan yogyakarta yang mulai dingin. menuju masjid uin. it menunjukkan redaksi kedaulatan rakyat, malioboro, pasar beringharjo, taman budaya, tempat penjualan buku yang terkenal di yogya__shopping, taman pintar, semuanya hanya kami lewati karena waktu kami terbatas. sebelum pukul sembilanbelas harus sudah sampai piyungan, tempatnya mat.

masjid uin. kami bergegas menuju tempat wudhu. detik selanjutnya adalah azan isya, saya memilih berjamaah, sedangkan it berlalu. dia harus pinjam beberapa film di rental yang dipesan tuan rumah. aku tidak ikut. menunggu. akhirnya it datang juga, lagilagi naik motor. Berhenti sebentar untuk makan dan kembali melanjutkan perjalanan.

ternyata piyungan itu sangat jauh, butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai di sana dengan laju motor yang kencang. sebelum ke rumah mat, it mengajakku ke tempat tertinggi di yogya. jalanan berkelok berkalikali dilalui, mobilmobil besar, di sini baru terlihat sisa gempa. karena daerahnya dekat dengan bantul yang menjadi pusat gempa, rumahrumah di sepanjang jalan rusak berat. bahkan ada yang tersisa rangkanya saja. beberapa rumah coba dihuni dengan kaadaan yang sangat seadanya.

menikmati kunangkunang di puncak__yogya

sampai juga akhirnya entah dikelokan yang keberapa. it menepikan motor, turun dan mulai merokok. aku tidak turun dari motor, duduk menikmati lampulampu yang temaram jauh di bawah sana. aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran it saat itu. yang pasti dalam hatiku selalu kusandarkan nama tuhan, dan aku tidak pernah tahu mengapa garis hidup membawa aku sampai ke peristiwa ini. aku menyerahkan segalanya pada tuhan. aku sadarkan diri untuk selalu ingat, karena tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untukku.

beberapa sms masuk. setengah jam menikmati kunangkunang, dingin, dan deru mesinmesin kendara. tak ada apaapa. kami melanjutnya perjalanan, kembali lagi ke tikungantikungan itu. memasuki jalan kecil, gankgank yang tetap berkelok, hampar tanah yang tidak dapat aku tebak__sawah atau kebun__karena malam telah menggelapkan segalanya.

malam hari~rumah mat dan er

kami disambut p yang telah menanti sedari tadi di teras rumah. er segera menghampiriku berkenalan dan mengajak masuk. di dalam ada faj dan seorang lagi yang aku lupa namanya. tak berapa lama mat keluar. suguhan khas madura tersaji sudah. ngobrol sambil nonton film yang disewa it. tibatiba saja perutku sakit. aku masuk kamar yang sudah disediakan. perutku tidak biasanya sakit, mungkin karena seharian naik motor dan aku tidak biasa.

sakit yang kurasa mulai berkurang, aku tertidur. mataku terpejam, tapi pendengaranku tidak pernah tidur, aku takut di tempat asing. setiap ada langkah di koridor mataku terbuka.

minggu, 30 juli 2006

pagipagi sekali aku bangun (ah memang tidak tidur semalam tadi), shalat, mandi. melihatlihat koleksi buku mat dan keluarganya. di dapur er memasak.

siang nanti aku punya janji dengan mfa. teman yang menyapaku lewat email ini ingin sekali bertemu, begitu juga aku. setelah meminta pulang beberapa kali, akhirnya keinginan itu terwujud. satu jam sebelum tengah hari aku, it, dan p pulang ke nologaten. ternyata hampar tanah yang tak terlihat malam hari itu hanya berupa tanah yang ditanami sejenis palawija. banyak tendatenda didirikan di tanah itu.

kami bertiga naik bus ke terminal giwangan, dari terminal harus ganti bus. tujuan kami adalah kosan ama (teman cwi), aku dan mfa membuat janji pertemuan di sini. sampai di sana harus menunggu karena mfa belum datang. tak berapa lama. lagilagi bayanganku tentang sosok maya yang kini jadi nyata hancur. mfa sosok yang tinggi, rambut gondrong dan keriting kecilkecil datang dengan sepeda ontelnya. sepertinya dia gugup. kami pun berbincang, sangat kaku. aku juga bingung harus ngobrol tentang apa, untungnya ada it, p, yang membuat suasana tidak begitu kaku. sambil membahas koran minggu yang sebelumnya kami beli di jalan menuju tempat ama. karena mfa ada kegiatan lain, kami berpisah. pamit pada tuan rumah dan pulang dengan arah yang berbeda. aku tidak langsung pulang, tapi berbelok menuju ambarukma mall ditemani p. sekitar dua jam aku mengelilingi mall yang baru dibangun ini. retakan akibat gempa terlihat di sana sini. pulang ke kosan. ashar, mandi, istirahat, magrib, makan di angkringan.

aku bertemu hen di angkringan. seseorang yang baru kuketahui beberapa hari sebelum keberangkatanku ke yogya. secara tidak sengaja, ketika aku searching di internet aku menemukan hen yang sedang mencaricari diriku. hen ingin mengabarkan padaku perihal pemuatan puisiku di minggu pagi. jodoh kami begitu singkat, begitu saja bertemu tanpa harus ada perjuangan yang berarti. Hen bercerita, berkat puisiku yang dimuat di koran, dia berhasil memacari seorang perempuan dan beberapa bulan ke depan hen akan menikah. cerita ini membuat aku terbang. betapa tidak, puisiku, katakataku dapat membuat seseorang bersatu, bahkan sampai menikah. nyawa katakata.

setelah berpisah dengan hen, kami bertiga menuju blandongan. mfa menunjukkan tempat yang harus aku datangi ketika berada di yogya. sebuah tempat minum kopi dengan suasana yang sangat nyaman. gazebo. lesehan. mfa telah menunggu di sana. segera memesan kopi, sedangkan aku yang tak suka kopi memesan susu coklat. berempat duduk berempat melingkar. aku, mfa, p, dan it. berbagai hal kami ungkap dari tulisan, blog, lombalomba, dan lain hal. sampai duabelas malam kami bertahan.

senin, 31 juli 2006

jalanan sore itu cukup padat, pejalan kaki memenuhi trotoar. kami menunggu angkutan umum di depan masjid uin, mungkin setengah jam lebih. ternyata mobilnya sangat tua dan lajunya pun sangat lambat. tujun kami shopping, tempat penjualan buku. tempat ini sama dengan palasari di bandung. menjelajah shopping dan membeli beberapa buku.

magrib. makan di angkringan. melanjutkan perjalanan ke malioboro, rencananya aku akan membeli beberapa gelang dan pernakpernik lainnnya. sampai malioboro membeli sate di depan benteng, setelah itu menyusuri jalan dan memasuki malioboro mall. lagilagi it tidak ikut masuk, aku tidak tahu mengapa ia sangat enggan memasuki area kapitalis ini. berkeliling malioboro mall hanya membutuhkan waktu tak lebih dari setengah jam, di sini aku membeli beberapa buku. setelah itu keluar dan melanjutkan susur maloiboro sampai batas akhir.

sekitar pukul sepuluh kembali lagi ke depan benteng. di sini banyak kursi taman permanen, menghadap jalan raya yang mulai sepi. kami dudukduduk sambil menikmati bulan yang tak sempurna. setelah puas kami meninggalkan malioboro dan menuju keraton.

malam makin larut, jalanan begitu lengang, tak ada kendara yang melaju. kami berjalan menuju alunalun utara keraton yogyakarta. kemudian memasuki jalan sepi menuju alunalun selatan. jalanjalan di sini seperti labirin, masuk ke pangkal, berbelok, seperti tak menemu ujung. setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di alunalun selatan. dua pohon beringin menanti kami.

masangin. di antara dua beringin. sebuah ritual yang entah sejak kapan muncul, yaitu berjalan di antara dua beringin. jarak keduanya mungkin dua kali lebar jalan mobil. dengan mata tertutup siapa saja yang dapat mencapai tepi akan mendapat berkah dan keinginannya tercapai. dengan mata tertutup it jadi orang pertama yang lolos dari diorama gaib. Dia memintaku menemani langkahnya saat menyebrang. Yang kedua am kemudian p keduanya tidak dapat jalan lurus memecah jalur beringin. begitupun denganku. Aku tak dapat melewati dua beringin itu. langkahku berbelok. Ketika diulangi lagi hasilnya sama, aku berbelok ke kanan bahkan sempat berputar dua kali. Perasaanku sudah jalan lurus ke depan, tapi nyatanya tidak. keraton memang dipenuhi peristiwa magis.

selasa, 1 agustus 2006

tengah malam. makan di angkringan. saya memilih untuk tidak makan. perut saya tidak sedang lapar. hati mulai berkecamuk, perasaan ingin pulang menyerbu. saya tidak terbiasa begadang apalagi berada di luar ruangan. kirim sms. akhirnya mereka mengajak saya kembali ke alunalun utara. sebelum meninggalkan dua beringin itu kami mengulangi lagi tapi tetap saja saya gagal.

menuju alunalun utara. sepanjang jalan mencari masjid yang berperikemanusiaan, masjid yang membiarkan wcnya terbuka. saya tidak kuat ingin buang air kecil. untungnya ada am yang mau menemani saya masuk dari satu masjid ke masid yang lain. dua lakilaki yang lain begitu tak memerdulikan saya. sampai di alunalun utara kami tak menghentikan langkah. Kembali lagi ke jalan malioboro. duduk. mulai merasakan dinginya yogya. angin pagi. azan pertama. menunggu pagi.

saya kuat. ritual kepenyairan di yogya saya lewati dengan lancar. setelah shalat di masjid pasar beringharjo semua kelelahan. p tidur sambil duduk, it rebahan di kursi. aku coba membaca buku tapi tertidur juga. am membangunkan aku. mungkin tidak tahan dengan kantuknya am memilih jalanjalan ke arah utara.

makan di angkringan. antri di wc umum, entah angin jahat mana yang membuat kami semua harus buang air besar dalam waktu yang bersamaan.kembali ke kursi taman dan membagi tugas. it ke redaksi suara merdeka untuk ambil honor puisinya yang kemarin dimuat, aku dan dua lelaki lainnya ke pasar beringharjo.

aku membeli beberapa batik untuk oleholeh. setelah itu kembali ke kursi taman. it sudah menunggu di sana. beristirahat sebentar dan kembali melanjutkan rencana. barang dititipkan ke p yang menunggu di kursi, aku dan it pergi ke stasiun tugu melihat jadwal keberangkatan kereta. rencananya besok saya pulang ke bandung. sepanjang perjalanan banyak keinginan it diungkap. keinginannya memiliki bayi yang berumur enam bulan. saya hanya tersenyum mendengar keinginan it.

stasiun tugu. lama kami berbincang di sini. lagilagi tentangnya, menceritakan salah satu cerpennya yang terinspirasi dari stasiun ini, ketakutannya pada sebuah keberangkatan. beberapa kereta datang dan pergi. akhirnya kami tak jadi memesan tiket. meninggalkan stasiun dan melanjutkan perjalanan

kondisi tubuh saya mulai menurun. tidak tidur dan makan yang seadanya membuat saya pusing. kepala saya sakit. mata mulai berkunangkunang, dan gejala pingsan sudah saya rasakan. pulang ke kosan dengan mobil yang tua dan lajunya lambat.

sampai di kosan saya langsung membenahi semuanya. bukubuku, tas punggung, keinginan saya untuk pulang teramat besar. saya sudah tidak kuat lagi dengan suasana di kosan it. malam ini saya akan tidur di kos dah temen cwi. nanti sore dia akan menjemputku ke kosan it.

akhirnya 2 agustus saya pulang diantar it ke lempuyangan. lima detik lagi saya akan tertinggal kereta. sampai di stasiun kereta mau berangkat, saya cemas sedang tiket belum dibeli. it melepas kepergian saya dengan ujung matanya. dia benarbenar tidak tahan dengan keberangkatan. akh.. akhirnya saya pulang juga ke bandung dengan berlembarlembar kenangan.

pulang dari yogya kondisi tubuh menurun lagi, sempat masuk angin, tapi sekarang sudah sehat tetapi masih malas mengerjakan skripsi. kini saya menikmati kemalasan saya dengan sesekali menulis puisi dan membaca buku.

teteh berdagang apa dengan ibu? saya juga ada warung di rumah, warung kecil yang dijaga mama dan sesekali saya membantu.

mohon doanya agar skripsi saya selesai tahun ini.

SudutBumi, 16, 17, 18 Agustus 2006

salam

DeHa

nb: kata ganti orang yang saya gunakan sering berganti, bagimana enaknya saja ketika saya menulis.

saya sertakan beberapa pengumuman lomba. terus berkarya dan semoga ada kesempakan kita

untuk ketemu di jakarta akhir tahun ini. selamat mengirimkan karya!

Selasa, 07 Agustus 2007

Menyoal Kejujuran

Salam,

Proyek Puisi

Sore itu MAT mengenalkan saya pada Saudara AI Tak berapa lama, saya pun terlibat dalam pembicaraan tentang proyek puisi yang mengambil tema-tema cerita rakyat. Bagi saya proyek itu cukup menantang. Mengubah teks prosa menjadi teks puisi.Sesuatu yang pernah saya lakukan untuk sebuah proyek yang lain. Pendek kata, saya menyetujui apa yang dipaparkan oleh Saudara AI. Dan akhirnya tergabunglah saya dalam sebuah tim, bersama rekan-rekan penyair yang lain. Saya hanya mengetahui beberapa orang yang tergabung dalam proyek ini, karena Saudara AI tidak menjelaskan dengan detail siapa yang ada di balik siapa.

Malam harinya, saya dikumpulkan bersama beberapa rekan yang lain, yang berasal dari 4 kota (waktu itu sedang berlangsung Temu Penyair), dan pembicaraan masih sama, yaitu: tentang penggarapan puisi. Bagaimana langkah kerja, cara dan waktu penulisan, segala hal yang berhubungan dengan proyek puisi.

Esok harinya. Seharusnya naskah diantarkan pada saya dan J. Ya, seharusnya karena Saudara AI telah menyatakan kesediaan untuk mengantarkan naskah itu pada kami. Mungkin, karena kesibukan-kesibukan yang lain naskah itu tak jadi diantar. Saya pun berinisiatif untuk mengambil naskah itu, sebelum pulang ke Bandung. Akhirnya J yang mengambil naskah dan juga mewakili saya yang sedang sibuk menyiapakan kepulangan.

Akhirnya naskah ada di tangan saya dan J, beserta uang dalam amplop putih sebesar Rp. 300.000,- Saya dan J tak pernah menyangka akan mendapatkan profit, karena Saudara AI tidak pernah membicarakan persoalan uang dalam proyek ini.

Yang ada dalam benak saya ketika mendapatkan penawaran penulisan puisi, adalah tantangan. Sebuah tantangan yang akan melengkapi proses pembelajaran saya dalam dunia tulis-menulis.

Kaget tentu saja. Saya berpikir, saya belum menulis, saya belum menyelesaikan sebuah pekerjaan yang kini menjadi tanggung jawab saya, tetapi saya sudah diserahi amplop yang bertulisakan nama saya. Rasa-rasanya saya mengenal tulisan tangan yang ada di atas amplop tersebut. Tak ada perjanjian tertulis dalam proyek ini. Selain itu, saya pun membawa amanat untuk menyerahkan amplop putih lainnya untuk FS. Dan sesampainya di Bandung saya menyerahkan amanat itu, menjelaskan bagaimana sistematika proyek itu.

Menyoal Kejujuran

Sampai hari ini saya belum mengerjakan tanggung jawab saya terhadap naskah itu. Lukisan pun baru diterima dua minggu yang lalu. Dan yang pasti saya masih berkonsentrasi pada penelitian skripsi yang sedang saya garap dan persiapan sidang di pertengahan maret nanti.

Beberapa hari lalu saya mendapat kabar tak sedap tentang proyek ini. Itu mengapa saya meluangkan waktu, untuk menulis surat dan dikirimkan via mail.

Proyek ini adalah sebuah tugas, tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh Saya, J, dan FS Dan itu akan terselenggara dengan baik, jika komunikasi terjalin dalam tataran saling percaya. Mengapa tiba-tiba saja, saya meragukan sebuah kejujuran. Saya percaya pada individu-individu yang tergabung dalam proyek ini. Bagi penyair, kejujuran adalah hal utama dalam menuliskan karya. Sama halnya dengan ketika saya berinteraksi dengan sesama. Kejujuran adalah barang mahal yang tak dapat ditukar dengan uang atau dengan apapun.

Dan kabar yang saya dengar itu adalah tentang pemberian profit yang diselewengkan. Mungkin saya terlambat mengetahui kabar ini, mungkin saya tak akan tahu jika FS (Rekan dalam proyek ini) tidak memberikan informasi yang sebenar-benarnya. Setelah komunikasi antara FS dan Saudara MMD via sms, barulah saya mengetahui bahwa sebenarnya profit yang diberikan kepada penulis bukan Rp. 300.000,- tetapi lebih. Saya tidak mengetahui berapa seharusnya profit diberikan dan saya pun tidak akan menggugat perihal ke mana larinya sebagian profit yang hilang itu.

Harus diingat, kepulangan saya dari kota budaya, Yogyakarta membawa sebuah amanat, sesuatu yang harus disampaikan dengan sebaik-baiknya. Saya pun menyampaikan pesan kepada yang bersangkutan tentang apa-apa yang saya dengar.

Beberapa hari yang lalu saya baru tahu ternyata dalam proyek ini terdapat tindak korupsi.

Semoga saya tak salah ketika menggunakan diksi korupsi. Tidak salah bukan?

Yang akan saya soroti adalah perihal kejujuran yang tergadaikan. Saya kira, tindak korupsi hanya ada di kalangan para pejabat, dan nyatanya budaya korupsi memang telah membudaya. Untuk lingkaran kecil seperti tim dalam proyek ini budaya itu ternyata telah mengakar.

Bagi saya kejujuran adalah utama. Kejujuran adalah sebuah prinsip yang harus dipegang oleh setiap individu agar tak salah langkah. Saya tak akan berpanjang-panjang memaparkan tentang kejujuran. Setiap orang dapat mendefinisikan sendiri, saya yakin setiap orang memiliki hati nurani. Semoga saja, nurani itu belum terbelenggu ion negatif.

Saya tegaskan kembali, saya hanya mempermasalahkan soal kejujuran yang tergadaikan! dan bukan hal yang lainnya. Semoga dapat dijadikan pembelajaran bagi diri saya dan yang lainnya. Karena jika kejujuran telah rusak, maka hanya hati yang dapat merasakan kekecewaan. Dan yang pasti kepercayaan itu tak kembali utuh seperti dulu.

Selanjutnya tunggu saja kiriman puisi saya, tanggung jawab itu akan saya selesaikan dengan baik. Maaf, jika ada kata-kata saya yang mungkin menyindir beberapa pihak. Maaf, jika ada kata-kata yang salah. Ini adalah isi hati saya, karena kebenaran harus ditegakkan!

Salam,

DeHa

Keliling Perpustakaan

Salam,

Aku dan Perpustakaan

Senang rasanya dan sungguh aku adalah seseorang yang berbahagia dapat mengetahui pengalaman-pengalaman Kakak di perpustakaan. Jika diingat-ingat, perpustakaan adalah jalan yang membawaku ke dunia sastra. Dulu, ketika di kelas 2 SMU , ketika jam-jam istirahat atau jam pelajaran kosong aku paling sering main keperpustakaan. Ya main, karena di bagian dalam perpustakaan itu akan aku dapatkan sebuah ruangan yang menjual beberapa jenis makanan. Selain itu, perpustakaan bersebelahan dengan ruang kelasku. Jangan bayangkan sebuah ruangan yang besar, perpustakaan itu hanya seluas ruangan kelas, sama dengan ruangan-ruangan yang lain. Di dalamnya terdapat berjajar-jajar rak buku yang isinya hanya buku-buku wajib dari diknas. Satu lemari kaca yang isinya kamus-kamus, dan satu lemari kaca lainnya yang berisi buku-buku umum. Dua lemari kaca itu selalu terkunci rapat, sesekali dibuka jika ada guru yang membutuhkan salah satu buku dalam lemari tersebut. Suatu ketika, lemari kaca terbuka dan penjaga perpustakaan sedang berada di ruangan yang lain. Bayangkan ada ruangan lain di dalam perpus, tempat shalat yang menyatu dengan kamar kecil tempat penjaga sekolah tidur di setiap malamnya. Aku pun asyik membacai satu per satu buku-buku yang ada dalam lemari. Tak ada yang menarik bagiku ketika itu, sampai akhirnya aku mengambil buku "Layar Terkembang" karya STA. Aku pun membaca buku itu dengan santai layaknya membaca buku-buku wajib diknas. Karena harus masuk kelas, akhirnya aku pinjam buku tersebut dan kubawa ke rumah untuk dibaca habis. Waktu itu aku tidak tahu kalau buku yang kubaca tersebut adalah buku berjenis sastra. Yang kutahu, buku itu enak dibaca dan aku ingin tahu akhir ceritanya.

Setahun kemudian, buku itu mengantarkan aku mendapatkan beasiswa untuk bimbel disebuah lembaga swasta yang menurutku biayanya mahal. Hanya dengan menjawab sebuah pertanyaan aku mendapat kesempatan untuk bimbel, persiapan Ujian Akhir Nasional. Kakak tahu, aku hanya menjawab pertanyaan: Tuti, Maria, dan Yusuf, adalah tokoh dalam buku? Tak ada yang menjawab dengan benar, kecuali aku yang memang pernah membaca buku itu. Dari situ aku sadar, bahwa yang kubaca waktu kelas dua adalah sastra. Ketika semua anak jago menjawa pertanyaan eksakta, kusadari tak ada yang menjawab dengan benar pertanyaan mengenai buku sastra. Setelah kejadian itu, aku kembali membaca buku-buku dalam lemari kaca. Memilah, karena saat itu aku tahu ini buku sastra (cerpen, novel) dan itu bukan buku sastra. Di meja-meja perpustakaan sekolahku, terdapat beberapa majalah umum. Iseng-iseng kubaca dengan ketaktertarikan,

ada beberapa puisi di halaman majalah-majalah itu dan kubaca "kaki langit". Setelah beberapa tahun kemudian, ketika aku berada di bangku kuliah, aku baru menyadari bahwa majalah yang kubaca tempo lampau adalah majalah sastra. Sungguh, ketika di SMU aku tak mengetahui bahwa itu adalah majalah khusus sastra, bahwa kaki langit adalah bagian dari Horison. Kakak jadi tahu bukan, bagaimana sastra diajarkan di bangku sekolah. AKu tak ingin menyalahkan guru bahasa Indonesia, tapi begitulah keadaannya. Aku berkenalan dengan sastra Indonesia karena kebetulan aku kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebuah kebetulan, karena keinginan utamaku adalah jurusan Biologi. Namun aku bersyukur, hingga aku menyadari posisi bahwa: perpustakaan adalah media yang membawaku secara tidak langsung ke dunia kepenulisan.

Rekreasi Perpustakaan

Pengetahuan yang sedikit tentang sastra, membawa aku ke perpustakaan daerah. Sayangnya gara-gara perayaan konferensi Asia Afrika sampai saat ini perpustakaan daerah tersebut dipindahkan, di wilayah yang sangat jauh dengan rumahku. Jika dulu memerlukan waktu satu jam untuk menjangkau perpustaan tersebut, sekarang memerlukan waktu 2-3 jam dan biaya angkutan kota yang sangat mahal. Ketika Masih belum dipindahkan, dua minggu sekali datang ke perpustakaan untuk pinjam buku atau cari buku sumber untuk tugas-tugas pelajaran di sekolah. Buku-buku yang kubawa pulang adalah cerpen dan novel, sedangkan buku puisi aku baca di perpustakaan dengan alasan dapat dibaca sekali waktu di tempat, berbeda dengan buku lainnya yang tebal-tebal. Ya itu sebagian kecil cerita tentang aku dan perpustakaan. Kakak tahu, perpustakaan kampusku memang memiliki gedung yang megah, 4 lantai! Lantai dasar adalah UPI Net. Tempat adik-adik kelas yang mengakses internet dengan murah, ya murah, karena sebagian dana telah dibayar di awal semester, ketika melakukan registrasi.

Lantai pertama menyediakan buku-buku untuk berbagai jurusan, buku-buku seluruh fakultas ada di lantai ini, dan buku-buku sastra hanya terdapat dua rak, buku-buku bahasa satu rak. Lantai berikutnya adalah ruangan skripsi, tesis, dan disertasi. Masih dilantai yang sama disediakan koleksi majalah-majalah, kamus, ensiklopedia, dan literatur lainnya (bahasa inggris dan lainnya). Lantai berikutnya digunakan untuk ruang kuliah. Saat ini UPI sedang gencar-gencarnya membangun dan mahasiswalah yang harus mengalah, karena harus menggunakan perpustakaan sebagai ruang kuliah. Jika kakak ke UPI tahun depan akan nyatalah sebuah Kampus dengan ratusan ribu ruang kuliah baru, belasan gedung-gedung megah, dan lain sebagainya. Hanya dua rak untuk sastra Indonesia, dan apa yang dapat dibanggakan? Maka tak heran jika mahasiswa di UPI selalu mencibir jika membicarakan perpustakaan.

Aku ajak kakak ke perpustakaan lainnya, yang pasti bukan perpustakaan daerah karena koleksi di pusda sangatlah komplit. Perpus ITB, hanya bisa diakses dengan bebas oleh mahasiswa ITB. Pernah sekali waktu main ke dalamnya dan menemukan perpustakaan yang sangat nyaman. Waktu itu aku barengan sama anak ITB, yah biar mudah masuk ke dalamnya. Buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliah tersedia. Lantai selanjutnya koleksi bukunya lebih umum dan sastra ada di sini. Namun sayangnya kebanyakan bahasa Inggris, dan aku adalah seseorang yang tak lancar menggunakan bahasa ini. Perpus Pascasarjana Unpad, ruangan boleh besar tapi sama dengan UPI minim buku. Aku tidak tahu bagaimana isi perpus Unpad di jatinangor karena belum pernah ke sana yang pasti tentunya lebih komplit. Perpustakaan Bale Pustaka. Letaknya ada di jalan Jawa setahuku milik pastoral. Bukunya lebih komplit dibandingkan perpus UPI, dengan membayar keanggotaan 25 ribu pertahun kita bisa sepuasnya pinjam buku, film, dan mengakses internet gratis. Perpus Batu Api, letaknya di jatinangor. Di sini gudangnya buku bacaan, dari zaman baheula sampai zaman ayeuna pastilah ada. Pernah sekali datang, dan berfoto-foto di rak buku-buku tua. Di luar kota, jadinya cuma sekali dan belum pernah main lagi ke sana. Perpus Museum Sribaduga. Perpustakaan ini sangat berjasa besar untuk aku, karena secara tidak langsung membawa aku jadi juara II lomba cipta puisi yang diadakan Dewan Kesenian Riau. Di sini gudangnya buku-buku daerah se-Indonesia. Mau cari budaya apa, Insya Allah ada di sini. Masih banyak perpustakaan lain yang pernah kukunjungi tapi aku lupa nama perpustakaannya. Salah satunya perpus yang berada di kompleks militer. Data-data sejarah bisa ditemukan di perpustakaan di jalan kalimantan, jalan veteran, jalan-jalan lainnya di kota Bandung.

Aku yang Polos

Terima kasih menilaiku sebagai seseorang yang polos. Memang benar penilain Kakak ini, aku seorang yang masih polos di dunia tulis-menulis. Asyiknya menulis aku temukan ketika kuliah semester dua sampai sekarang. Awalnya, tak ada niat sedikitpun untuk berkarya, berhubung banyak kakak kelas yang menanyakan "mana karyanya?", "nulis apa hari ini?", dan segudang pertanyaan lainnya. Ditambah teman-teman kelas yang juga bertanya "Ingin baca tulisan Dee," "udah muat di mana aja?", dan lain sebagainya.

Dari pertanyaan-pertanyaan mereka aku mulai berpikir. O, berarti aku harus menulis, harus berkarya, dan harus dimuat. Sejak itulah (semester dua) aku menargetkan: nanti di semester tiga harus ada tulisanku yang dimuat, dan untuk menuju pemuatan aku harus banyak belajar, harus banyak membaca, dan harus berdisipilin diri. Maka puisi-lah yang menjadi batu loncatan pertamaku. Belajar merangkai kata, bergumul dengan kamus, berdiri berlama-lama di toko buku, belajar bikin e-mail, kirim tulisan, datang ke kantor pos setiap bulannya, datang ke acara diskusi buku, pameran buku, dan seabrek kegiatan yang mendukung aku dalan nuansa menulis. Sampai akhirnya target aku tercapai di semester tiga. Puisiku muat di dian sastro #2. Setelah itu, semakin menggebu-gebulah aku belajar menulis. Apalagi ketika seorang teman berkata "menulis adalah bakat", betapa inginnya aku mematahkan teori itu.

Dan sampai saat ini, menurutku, aku berhasil mematahkan perkataan temanku. Akhirnya dengan perjuangan yang keras, aku bisa menulis walaupun belum dapat dikatakan bagus.

Terus menulis dan membaca adalah usahaku yang paling keras. Dari seorang wartawan aku mencatat, "kalau mau dimuat di media luar, harus bisa muat di media lokal dulu", aku pun ingin mematahkan perkataan wartawan itu, akhirnya kirim ke media manapun. Namun jalan yang ini tak semulus target pertama. Akhirnya, mau tidak mau, aku harus mengiyakan perkataan wartawan itu. Setelah perjuangan kirim ke media lokal berkali-kali, akhirnya di tahun kedua puisiku muat di Pikiran Rakyat. Setelah pemuatan di PR, jalanku untuk muat di media lain agak-agak lancar. Sampai sekarang pun aku terus berusaha tetap menulis dan membaca di sela-sela rumitnya penelitian skripsi. Doakan ya Kak, skripsi dan sidangku berjalan lancar. Rencananya, aku sidang di bulan Maret dan diwisuda bulan April. Beberapa bulan ke depan, jadilah aku seorang Sarjana Sastra yang minim bahan bacaan tidak seperti Kakak yang bacaannya sudah mendui, hebatlah!

Kakak Tidak Seperti Itu!

Jangan lagi bilang, bahwa kakak adalah seorang anak haram dari sastra Indonesia. Anak yang sah itu yang seperti apa? Apakah harus kuliah di sastra? Apakah wajib membaca karya sastra dari Indonesia? atau kriteria apa, yang menyebabkan seseorang disebut anak haram atau anak sah dari sastra Indonesia. Selayaknya penulis lain, kakak adalah seseorang yang meramaikan jagat sastra Ind. dengan karya-karya kakak, seperti penulis lainnya, kakak adalah seseorang yang turut andil memperjuangkan budaya baca dan tulis yang masih sangat minim di Ind. Jadi, pantaslah kakak berbangga dengan semua yang telah kakak raih dan kakak perjuangkan. Dan yakinlah, suatu saat kakak akan menjadi sejarah seperti yang Pramoedya katakan: "Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah."

Semoga, aku tidak membuang waktu kakak dengan percuma, semoga kakak masih mau berbagi banyak hal tentang menulis, atau mengenai apapun. Yang pasti, aku senang dengan semua ini: perjumpaan dengan Kakak, membaca karya-karya kakak, dan berkomunikasi dengan Kakak. Pokoknya: SIPLAH!!!

Oya, kapan kakak buat antologi cerpen terbaru? Nanti kirimi aku ya.

Salam,

DeHa

Perempuan dari Mayapada

SudutBumi, dalam tahun Masehi.

Kepada seseorang yang belum kutemui.

Sebuah perkenalan…

Takdir pun mengantarkan kita pada sebuah perkenalan. Saat kuasa Tuhan menjadikan aku, kamu, berpandangan dalam fatamorgana. Begitu maya dalam siang yang memurba. Lalu mencoba menyiasati kisah melalui telepon dan pesan-pesan singkat di larut malam.

Pertama adalah sebuah perkenalan

Pertama adalah sebuah keisengan

Pertama adalah sebuah kerinduan

Mungkin itu yang aku rasa, ketika kerap kali telepon yang datang di pagi hari, siang hari, atau sore hari membiasakan aku menanti datangnya dering nada-nada monophonik ponselku. Lalu aku pun menjadi terbiasa mendengar suaramu.

Masih aku ingat, apa yang kita bicarakan adalah hal-hal sepele. Entah karena kita tak pernah memikirkan berapa pulsa yang dikeluarkan, atau hanya sekadar main-main mengisi waktu luang yang kiranya kita punya.

Terus terang, setelah teleponmu yang pertama, kedua, dan ketiga ada harap dalam hatiku, entah apa….

Ada semangat yang tiba-tiba berkobar setelah ponsel terlepas dari genggaman. Dan emosi yang aku miliki memuncak ketika suatu hari kamu tak menghubungiku, entah… aku tak tahu, mengapa akhirnya begini.

Percaya kata hati? Mungkin aku adalah salah satu orang yang percaya kata hati atau firasat. Logika pun sering kali kalah, karena aku berpegangan pada kata hati. Selama ini aku berjalan menuruti kata hati, bertahan dalam hidup, lingkungan, yang memaksa aku timbul tenggelam di dalamnya.

Dengan kekuatan hati ini akhirnya aku mampu bertahan, lalu kamu menjadi candu dalam keseharianku. Candu yang akan selalu membuat aku sakau jika dirimu tak hadir menyapa.

Banyak tanya yang menggunung di hatiku mengenai dirimu.

Aku tak pernah tahu siapa kamu, dirimu, hidupmu, keluargamu, lingkunganmu, aku tak menahu. Sama sekali aku tak tahu.

Dan maaf jika kehadiranku menggangu hari-hari yang kamu jalani.

Betapa aku menikmati suaramu, logat daerah yang mengental dalam dirimu, juga kalimat pendek­­__tetap dengan kedaerahan__yang kau bangun dalam pesan-pesan singkat.

Inilah aku…

Mengapa kamu tak percaya bahwa aku seorang tomboy?

Perempuan yang harus bergelut dengan waktu hanya untuk bertahan dalam hidup yang semakin durjana. Perempuan yang harus menyiasati setiap gerak langkah dalam kesendirian. Perempuan yang mau tidak mau harus menjadi tegar, karena hidup yang aku alami terlampau sulit. Perempuan yang tidak mengenal air mata, tidak mengenal kasih sayang, tidak mengenal kebahagiaan.

Terimakasih Tuhan…

Tuhan mengirimkan kamu dalam ketakpercayaan. Karena setelah hadirmu, aku dapat merasakan bahagia. Bahagia yang semu, maya, fatamorgana, oase, tak nyata, semua samar karena aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Tiba-tiba saja hadirmu memberi sedikit rasa dalam sunyiku.

Kamu tahu mengapa aku menyukai sunyi?

Kesunyian adalah abadi. Dalam sunyi aku ingin membangun sebuah keriuhan. Dalam sunyi aku dapat merasakan hidup, dan kini aku telah menyetubuhi sunyi. Melahirkan gejolak rasa melalui rahim suciku.

Aku kaget membaca sms darimu

21.03.2005 21.30

Bandung kota kembang yg tlh menjadi kota kambing dimana gadis2nya sdh tdk perawan lg! (aku tikus, kucing penggalan lagu doel sumbang yg saban hr kudengarkan

Betapa tidak, kota yang aku cintai ternyata di luaran sana telah dikenal sebagai kota yang tak lagi suci.

Kamu tahu betapa aku mencintai Bandung.

Kota yang telah menjelmakan seluruh kenangan hidupku sampai saat ini. Ketika dulu, aku terjerembab, jatuh dalam sawah yang sedang dibajak. Tubuh kecilku dibungkus lumpur pekat, yang aku ingat tak ada air mata saat itu. Lalu jalanan kota Bandung yang membuat aku betah. Bagaimana nikmatnya berjalan kaki di Braga, bangunan Belanda, gedung-gedung tua, tiang-tiang penyangga Landmark.

Dan kini aku tetap mencintai Bandung yang tak lagi perawan. Ketika caci maki menghujat tubuhku. Seorang nenek memaki aku pagi-pagi sekali. Seorang lelaki tua menuduh aku pencuri, bahkan mungkin pohon-pohon yang kini tak ada lagi __karena pembangunan jembatan layang Pasupati__menertawakan aku. Tertawa yang begitu jemawa, melihat aku berjalan sendiri menghadiri acara Dago Festival. Acara tahunan yang di sponsori sebuah merk rokok.

Bandung, mungkin suatu saat harus aku tinggalkan, karena takdir Tuhan. Karena hidup adalah sebuah pilihan, dan aku tahu Tuhan baik padaku dan akan memberikan yang terbaik pada hidupku. Jalan hidup yang telah dituliskanNya pada sebuah masa.

Kalau boleh tahu, kamu merokok? Semoga saja tidak. Setahuku rokok dapat mempercepat kematian seseorang. Kamu tidak ingin mati muda seperti Chairil Anwar.

Kalau kamu merokok, aku maklum. Seperti sudah menjadi icon bahwa lelaki adalah perokok, dan itu terserah kamu.

Kota Pahlawan…

Akankah kamu menjelma menjadi pahlawan, setidaknya bagi dirimu sendiri. Lalu menjadi kebanggaan keluargamu dan lingkunganmu. Ataukah kamu akan menjadi buaya sebagaimana perlambang kota ini. Aku ingatkan kamu agar tak salah memilih dan menapaki jalan hidup.

Dunia maya, akh aku ingat sms darimu

23.03.2005 23:32

Horizon adl garis maya pd suatu saat kt harus berhenti pd sebuah titik.bljarlah u mencari titik dimana nantinya kt akan berhenti.aku akan berdoa u bs bertemu

Dan pertanyaan yang tak salah jika aku tanyakan kembali padamu saat ini, akankah pertemuan itu terjadi? Aku hanya dapat menantikan arah datangnya pertemuan itu. Ataukah kita akan tetap menjadi semu, seumpama bulir-bulir embun pagi yang menguap tiba-tiba, ketika matahari dengan angkuhnya menyirnakan semua harapan.

Meditasi…

Adalah sebuah perenungan jiwa ketika kontemplasi yang kujalani tak menghasilkan apapun, dan jiwa tetap kosong. Rasa terkejut yang tiba-tiba datang, lamunan-lamunan yang tak dapat aku hindari. Beban berat yang sebenarnya tidak pernah aku tanggung menjadi ketakutan bagi diri. Ada apa denganku? Itu yang aku rasakan akhir-akhir ini, hingga aku meminta bantuanmu mencari solusi untukku.

Lagi-lagi terima kasih, karena hadirmu telah memberi sedikit kelegaan dalam hatiku yang kosong. Beban berat yang aku sendiri tidak tahu apa itu, atau apapun itu, dan aku tak ingin memikirkannya. Beri tahu aku cara menjalani meditasi yang kau ceritakan, jelaskan secara singkat namun aku dapat mengerti. Aku tertarik dan ingin mencobanya.

Sedap Malam…

Ada rindu yang selalu dihantarkan sedap malam melalui penciumanku. Rindu pada kesucian tubuh. Ketika ritual Ramadhan aku lalui, gema-gema takbir berkumandang, ketupat dan opor ayam tersaji di meja makan. Begitulah, kerinduanku terhadap Idul Fitri, sebuah kesucian abadi ketika upaya pendekatan jiwa raga kita pada Tuhan sang pemilik Semesta.

Rindu yang hanya terlampiaskan satu tahun sekali, rindu yang begitu suci bukan?

Parangtritis, Jogja, Bromo, Jayagiri, Tangkuban Perahu, Indonesia…

Kau tanyakan padaku sebuah identitas kenegaraan. Dan ternyata aku bukanlah seorang Indonesia sejati. Ketika kota-kota yang aku datangi, hutan-hutan yang aku jelajahi, semua hanya mengarah pada keagungan Tuhan, bukan wujud kenegaraan.

Di hamparan semesta, hanya ada diriku yang begitu kecil. Saat kabut-kabut Tangkuban Perahu mengepungku dan memenjarakan aku dalam dzikir khusuk. Lalu doa-doa terucap, harapan yang ditumbuhkembangkan.

Semoga suatu saat kamu mau mengajak aku ke tempat yang telah kamu datangi. Kembali mengunjungi Parangtritis, Bromo, dan berbagai tempat yang belum pernah aku datangi. Semoga saja datang kesempatan padaku mengunjungi tempat-tempat itu bersama atau tanpa kamu. Agar aku dapat diakui sebagai Indonesia sejati (itu katamu).

Janganlah berpaling…

30.03.2005 23:12

Sory, br tak buka smsm. Thank diingatin,ya. Lg ngapain uda mimpi ya, ato msh ngerjain tgs dosen yg menyebalkan,jgn lp klo mo bobo cuci kaki, dan bayangin wajahku, ya!

Membayangkan wajahmu??? Bagaimana bisa… dari suara yang aku dengar, aku tidak dapat membayangkan raut wajahmu. Sosokmu, tubuhmu, dan semua hal tentang dirimu. Semua begitu samar bagiku. Maafkan aku tidak dapat membayangkan dirimu.

Seperti yang telah kita sepakati, saling tukar foto. Aku harap setelah tahu gambaran diriku, melihat dengan nyata bagaimana wajahku, kamu tidak berpaling. Tetaplah menjadi seseorang yang dapat membangun kebahagiaan, setidaknya di hatiku.

Yang harus kamu ingat, foto adalah lukisan cahaya. Di mana warna yang tergambarkan adalah bagian maya dari diriku. Dan sesuatu yang maya itu harus kau cari hingga jadi nyata. Tetaplah bersetia pada waktu, walaupun aku tahu waktu tak pernah setia karena waktu akan selalu berubah. Dan perubahan adalah abadi.

Kini…

Aku menunggu balasan darimu, jawaban-jawaban yang tertulis melalui korespondensi juga fotomu, agar aku dapat membayangkan wajahmu (sesuai keinginanmu). Ceritakan apa pun yang ingin kamu ceritakan, siapa dirimu, keluargamu, lingkunganmu, dan hal apapun yang tidak aku ketahui.

Terima kasih…

Telah hadir dalam hari yang aku jalani, walaupun berawal dari iseng yang kamu bangun. Tetaplah memberi semangat padaku, semangat untuk tetap dapat merasakan damai di hati saat aku angkat ponsel dan siap mendengar suaramu.

Salam kelengangan,

perEMPUan dari Mayapada

Siluet Bayang Mama

SudutBumi, 24 Maret 2006


Teruntuk Mama

di rumah sederhana




Assalamu’alaikum wr.wb.

Ma… selepas subuh hari ini, tiba-tiba saja aku dilingkup rindu yang sangat. Ingatan masa kecil berloncatan dan memanggilku untuk mengenangkannya kembali. Berlarian di pematang sawah, menyaksikan pelangi setelah hujan turun, menanti kepulangan Bapak yang hanya dua minggu sekali.

Tak terasa masa kecil itu berlalu seiring waktu dan memaksaku meninggalkan kampung halaman di batas kaki gunung. Banyak peristiwa yang berjalin di benakku, namun kenangan itu tak hilang, karena setiap lembarnya telah aku rekam dan aku simpan baik-baik.

Seperti pagi itu ketika aku terjerembab, jatuh ke sawah yang sedang dibajak. Anak-anak kecil seusiaku menertawakan, mengejek karena tubuh kecilku dibalut lumpur pekat. Engkau langsung menggendongku tanpa pedulikan baju yang jadi kotor. Menasehatiku dalam isak yang tak henti-henti. Memandikan aku dengan air suam-suam kuku, lalu menghiburku. Agar reda tangisku, engkau membawaku ke warung dan membelikan beberapa butir permen. Tak ada kemarahan yang terlintas di wajah sendumu. Masih kuingat pula senyummu yang merekah tatkala tangisku reda.

Ma… di usiaku yang menjelang dewasa ini, aku ingin kembali ke masa lalu. Merasakan setiap belaian, mendengarkan cerita menjelang tidur, menikmati bubur kacang hijau yang tersaji setiap pagi. Aku pun ingin merasakan lelahnya pergi ke pasar setiap hari minggu. Memilih ikan mas untuk digoreng atau sayuran segar yang disukai Bapak. Betapa setiap peristiwa menimbulkan jelaga kecintaan pada Mama.

Hari-hari penuh kerja keras. Betapa aku ingin cepat menyelesaikan kuliahku, memberikan sedikit kebanggaan di hati Mama. Pulang ke rumah dengan beribu keberhasilan. Menceritakan semua peristiwa di sepanjang hariku, mencipta berlipat kebahagiaan.

Di kota ini aku belajar mandiri, menghindari laku buruk yang bertebaran di depan mata. Berkonsentrasi pada buku-buku yang menumpuk di kamar untuk segera aku lahap. Mencari teman yang tepat dan mendiskusikan berbagai hal. Ternyata masih banyak kerja yang harus diselesaikan.

Selalu dalam doa-doa panjang kusebut namamu. Di tengah gempuran hidup yang tak usai-usai, kucermati setiap langkah agar tak lelah harimu. Membidai ruang waktu yang berjarak demi sebuah perjuangan.

Hari ini tepat 60 tahun peringatan Bandung Lautan Api, peristiwa yang pernah Mama ceritakan ketika aku tak mengerti dengan pelajaran sejarah di sekolah. Sejarah yang patut dikenangkan, karena hari ini adalah imbas masa lalu, rangkaian panjang sebuah kisah hidup yang harus diselesaikan.

Tidak akan pernah kusia-siakan usaha Mama menghidupi keluarga membantu Bapak. Tak akan juga kubuang waktu dengan percuma. Semua yang terbaik untuk Mama, semua akan aku usahakan.

Hujan di kota ini tak pernah meluruhkan setiap jejak keras kehidupan. Ketika jeda panjang kudapati hanya ada kasih sayang yang selalu merona di ujung hari. Semua meruah, berbekas, dan takkan pernah tergantikan sepanjang hayat. Bumi ini selalu menghadirkan siluet bayang Mama. Ketika bertandan-tandan kerinduan tak terlunasi, hanya pada Sang Semesta kucurahkan rindu ini, aku cairkan bersama lantunan ayat-ayat suci.

Ma… selalu doa-doa kutetaskan bagimu. Merepihkan setiap senyuman demi kepulangan yang dinantikan. Harapan dan cita-cita itu akan aku raih dengan restumu. Doakan aku juga Ma, agar setiap langkahku berada di titik paling sempurna.




yang selalu merindu,

ananda DeHa