Sabtu, 24 November 2007

Untuk Tuan Pelamar

SudutBumi, 8 November 2007

“Apa yang paling membuatmu merasa lebih sempurna jika kamu sudah mendapatkan apa-apa yang menjadi keinginanmu sekarang?”

(Isyarat Cinta yang Keras Kepala, Puthut Ea)

Tuan, besok (9 November) genap sebulan “gosip” lamaran itu mencuat ke permukaan. Apa yang akan Tuan lakukan? Tetap bermain-main atau akan melakukan sebuah loncatan. Terserah apa yang akan Tuan kerjakan, yang pasti surat ini kutulis tidak dalam keadaan “jaim” atau bermanja-manja ria.

Kau dan Sederet Kehidupanmu

Tentu saja aku tidak tahu siapa Tuan sebelumnya. Tuan hadir ketika “heboh” Temu Penyair di Yogyakarta. Kota yang bagiku penuh kenangan. Tahukah Tuan, ingatanku melawan arus, ia berlari pada masa setahun lampau. Ternyata nama Tuan telah berdampingan denganku di sebuah koran daerah. Ya, ternyata kita telah dipertemukan secara tidak langsung.

Komunikasi itu berlanjut Tuan, kita membicarakan banyak hal tentang sastra dan lingkup bidang tersebut. Tetapi, pembicaraan yang kita bangun hanya sekadar hubungan pertemanan antara individu yang memiliki profesi yang sama. Ya, Tuan sempat beberapa kali menghubungiku dalam waktu-waktu tertentu.

Dan kini, seminggu sudah kita intens berkomunikasi. Setiap hari tentunya ada kabar yang sampai kepada kita. Tuan, aku adalah seseorang yang selalu mengingat waktu. Mengapa? Karena bagiku waktu selalu terus berjalan, meninggalkan setiap perubahan-perubahan yang siap tumbuh berkembang, dan waktu mengajarkanku banyak hal. Tahukah Tuan sesuatu yang abadi itu adalah perubahan. Dan waktu selalu mengiringi perubahan itu.

Apa yang sedang Tuan pikirkan saat ini?

Pikiran Tuan mungkin berubah dalam menit berikutnya, dan aku akan memahami setiap pilihan yang Tuan tentukan. Sebuah pilihan yang akan mengubah hidup menjadikan hidup lebih manis atau terkesan hambar.

Kau dan sederet kehidupanmu, tentu saja aku tak mengetahui siapa Tuan sebenarnya. Aku hanya tahu Tuan, dari sudut pandang cerita-cerita yang Tuan bangun. Tak lebih dari cerita yang datang ke pendengaranku dan aku hanya mampu mengingat.

Aku dan Luka

Kuberi tahu, di tubuhku ada luka. Di tubuhku terdapat luka yang dalam. Begitulah aku selalu memperkenalkan diri kepada laki-laki yang datang dan pergi. Ya, laki-laki yang datang dan pergi, sekehendak hati mereka. Dan aku selalu menyiapkan diri untuk merasakan luka yang sama , kebosanan yang sama, dan sakit yang sama. Aku selalu mempersiapkan diri untuk berbagai rasa yang singgah di hati lalu pergi dan hanya meninggalkan kenangan.

Bagaimana dengan Tuan?

Sampai hari ini aku merasakan luka yang ditinggalkan laki-laki terdahulu. Tapi untuk Tuan ketahui, aku tak pernah larut dalam keterpurukan. Aku bangkit dengan kekuatanku sendiri. Menjahit kembali sayap kupu-kupu yang robek, membenahi setiap bagian yang dilukai.

Kini aku dapat terbang bebas.

Dan untuk menjaga agar sayapku tak luka lagi, aku selalu bersiaga untuk kedatangan dan kepergian. Kini, aku selalu berhati-hati jika rumah di hatiku dikunjungi tamu. Seperti saat ini, Tuan sedang bertamu di rumahku. Aku menerima Tuan dengan sebuah senyuman. Senyuman pagi. Lalu mengapa tiba-tiba Tuan mengirimkan hujan di pagiku yang indah? Tuan, aku bersiaga dengan kiriman hujan itu. Aku bersiap jika hujan itu pergi dan meninggalkan aku. Aku memahami hujan yang Tuan kirimkan, hujan yang ambigu. Hujan yang merindu.

Tuan, bagaimana jika musim berganti? Bagaimana jika kemarau datang tiba-tiba dan hujan tak kembali membasahi pagiku? Apakah aku harus bersiap dengan luka yang baru? Apakah aku harus menyiapkan benang dan jarum kembali. Aku lelah Tuan dengan semua yang tak pasti.

Meretas Jarak

Jika Tuan tidak sedang bermain-main, maka buatlah perubahan untuk musim yang tak menentu ini. Datanglah bersama hujan yang Tuan kirim di setiap paginya. Hujan yang berarti rindu. Aku ingin tahu, apakah Tuan akan mengubah hidup atau hanya menjadikan kisah ini sebuah cerita dalam telepon genggam.

Salam,

dari peremPUAN yang hendak Tuan “lamar”

Sabtu, 01 September 2007

Sayembara Cinta yang Mendebarkan

SudutBumi, 27 Januari 2006 ~ 23:07

Cinta…

Sedari pagi langit menumpahkan tangisnya ke pangkuan bumi. Entahlah saya tak mengerti dengan cuaca saat ini, padahal matahari begitu teriknya mengeringkan jemuran yang tak akan pernah kering. Mungkin saja kering, tapi setelah hari beranjak siang, semua tetap sama. Langit yang makin mendung menjadi biasa di setiap hari jumat. Ya, setelah Jumatjumat yang lalu, saya rasa langit selalu dihiasi mendung. Mungkin menguji para lelaki yang akan pergi ke masjid.

Siang tadi, saat khutbah Jumat, saya asyik membaca naskah novel seorang teman penyair dari Solo. AB namanya, saya mendapatkan file novel tersebut dari Nadir Attar, setelah sebelumnya mendapat izin dari penulisnya. Naskah novel yang berjudul Perempuan Kamar ini dipenuhi adeganadegan persetubuhan, dan saya suka. Entah mengapa, saya begitu menikmati bacaan ini. Mungkin karena lama saya tidak membaca novel dan selalu bergelut dengan puisi berhubungan dengan penelitian saya__bahan skripsi.

Mungkin inilah jangka waktu tercepat saya membaca novel (naskahnya), sekira lima jam dipotong mandi dan istirahat siang. Melulu dihadapan komputer tua yang sangat saya sayangi. Bagaimana tidak, di antara komputer kawankawan, komputer milik sayalah yang paling tua: dengan keterlambatan proses, program yang tidak memadai, CD Room yang tak berfungsi, anti virus model kuno, mouse yang sering ngadat dan lain sebagainya. Tapi saya sangat menyayangi komputer usang ini, walaupun bagaimana dia menemani saya dari awal menulis sampai saat ini. Untungnya komputer ini tidak pernah ngadat dengan berlebih, pernah sih masuk keluar rental karena beberapa hal, tapi untungnya tidak menguras terlalu banyak biaya dan tenaga, dan saya bersyukur dengan hal ini. Beberapa waktu lalu printer saya yang bermasalah, masuk tempat reparasi dan tidak saya ambilambil karena tidak ada biaya untuk membayarnya. Sampai kepulangan Bapak dari Jakarta (bekerja di kota ini) yang akhirnya mengambil.

Sebenarnya Mamah ada uang, tapi saya harus memilih: ambil printer atau untuk ongkos ke Jakarta. Akhirnya saya memilih uang yang ada untuk ongkos ke Jakarta (26 Des 05). Mungkin suatu kebetulan atau tidak (entahlah, karena saya mengira ini suatu keberuntungan, anugerah dari Allah) cerpen saya yang berjudul "Tubuh" masuk nominasi lomba cerpen tingkat nasional. Yah, walaupun nominasi ke-12 saya cukup berbangga hati. Saya diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop penulisan cerpen atas kerjasama Menpora dan CWI yang digawangi Hudan Hidayat (27-28 Des 05). Saya tak pernah menyangka bertemu dengan orangorang hebat, temanteman dari penjuru Indonesia (kecuali Indonesia Timur, tidak ada pemenang dari wilayah ini), harihari di Jakarta yang serba mengenakkan. Ya, semua ditanggung pemerintah: biaya pulangpergi Bandung-Jakarta, makan, hotel, dan segala hal. Yang utama sih pengalaman. Wuah… saya tak pernah menyangka.

Malam hari__setelah satu hari berkutat dengan novel AB__saya beserta dua adik saya dan Mamah nonton film remaja yang diputar Indosiar. Kata adik perempuan saya, film itu berawal dari sebuah novel dan dia sudah membacanya. Judulnya I'am vs High… duh lupa… pokoknya kalau dibahasa Indonesiakan saya versus sepatu berhak tinggi. Film itu tibatiba saja membawa ingatan saya pada seseorang. Tibatiba saja saya merasakan rindu yang berlebih, tidak seperti harihari biasanya. Rindu pada seorang lakilaki yang selama… kurang lebih enam bulan, saya keceng. Duh….

IRM, namanya. Hari ini, pagipagi sekali dia kirim sms pada saya dan bertanya: …. Sejauh apakah kau mampu mengoyak poripori hatiku? Tentu saja saya kaget ketika menyalakan ponsel dan beberapa saat kemudian sms itu saya baca. Entah, ada apa dengan IRM. Tidak seperti biasanya dia kirim sms duluan, pastilah selalu saya yang selalu rajin mengirimi dia sms. Mungkin saya terlalu agresif (kata temanteman begitu) tapi ini salah satu upaya saya pdkt dengan IRM. Saya balas sekenanya pagi itu, tapi seharian ini saya memikirkan pertanyaan IRM yang tidak biasa. Mungkin saya terlalu banyak berharap pada dia, tapi menurut saya ini tidak salah, tapi entahlah….

Sebelumnya saya tidak pernah mengenalnya dan tidak pernah melihatnya di kampus. Saya menemukannya ketika berada di depan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) bersama temanteman dari jurusan Bahasa Sunda. Pertama kali melihat saya langsung jatuh hati pada rambut panjangnya yang ikal, rapih, dan teratur. Sejak itu saya selalu mencari sosok berambut panjang itu, dua sampai tiga hari saya melihatnya, duduk sambil membaca di Selasar masjid. Dingin. Terlampau dingin. Setelah itu saya tak pernah melihatnya lagi, sampai pada minggu berikutnya, saya melihat wajah yang tak asing lagi bagi saya, namun berpotongan rambut pendek. Akhirnya saya tahu, IRM memotong rambutnya. Seketika saya ilfeel, saya menyukainya karena rambut panjangnya, setelah rambutnya dipotong, apa yang harus saya sukai dari dia?

Akh… ternyata saya tak dapat melupakan wajah itu.

Bulan Agustus 2005 saya KKN di Cianjur, kebetulan sekali teman kelompok saya ada yang berasal dari jurusan Bahasa Sunda, tidak salahkan jika saya mengorekngorek perihal IRM padanya. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap ngeceng IRM (hehe…), sampaisampai dengan mudah saya mendapat nomor ponselnya. Pertama kali sms tersambung dengan kakaknya, dengan dalih diskusi akhirnya saya mendapat nomor lain (sayangnya nomor flexi yang diberikan) dan dapat berkomunikasi dengan IRM, dengan konsekuensi: setiap sms dari saya pastilah dibaca seluruh anggota keluarganya, tapi ini tidak menyurutkan langkah saya mendekati IRM. Sampai hari ini saya tetap berdoa pada Tuhan: agar suatu saat, saya dipertemukan dengan IRM di suatu ruang hanya berdua. Di mana dia harus menyapa saya terlebih dahulu, karena sampai sekarang saya tidak pernah mendengar suara lakilaki ini. Yang saya tahu dia terlampau dingin. Beku. Dan ini tantangan buat saya untuk mendapatkannya, terlalu egois? Semoga saja tidak. Karena saya cukup mendapat dukungan dari temanteman saya dan temantemannya. Doakan saja.

Rindu…

Semoga saya tidak hanyut dengan rasa rindu yang berkecamuk dalam diri dan saling bersengkarut. Saya adalah perempuan yang mudah jatuh cinta dan sulit melupakan. Betapa menyiksa bukan? Kepulangan saya dari Jakarta pun membawa benihbenih kecintaan pada seseorang. LG, lakilaki tinggi dan berkacamata ini kuliah di Malang. Samasama semester tujuh, samasama jurusan sastra Indonesia, dan samasama suka menulis. Sepertinya kami bersepakat tidak membuang waktu ketika berada di Jakarta. Di antara semua teman, saya paling akrab dengan Lubis. Yah… malammalam di Jakarta yang penuh kenangan, kami bicara dengan cara yang unik: saling berbisik (padahal kami berada di antara peserta workshop yang lain), duduk berdekatan, saling mengolok, dan bersepakat. Kami akan menulis bersama (semacam kolaborasi) dan jika ada penerbit yang tertarik mungkin diterbitkan. Rencana awal penggabungan dua gagasan baru dimulai beberapa hari lalu, dan semoga ini berjalan lancar dan sempurna.

Di lain pihak, saat ini saya sedang digombali seseorang. Dia merayu melalui sms dan e-mail, duh…! AK namanya seorang cerpenis dan pengamat sastra (begitu saya membaca biografinya di Republika minggu ini, 22 Jan 06). Untuk lakilaki yang satu ini saya membentengi diri saya dengan tembok yang tinggi, selalu mengingatkan hati saya: AK sudah beristri!!! Yah, seseorang memberitahu saya bahwa AK sudah beristri. Saya dan AK samasama peserta workshop, AK lebih senior dari saya, karena tahun sebelumnya dia pernah juga diundang ke Jakarta. Saat ini (kata orangorang) dia bekerja di DKT. Kami bersepakat bertemu lagi di acara yang akan diselenggarakan oleh Rumah Dunia: Ode Kampung, Temu Penyair Sekampung Nusantara. Acara yang akan dilaksanakan 3, 4, 5, Februari 2006. Mungkin nanti saya akan melabraknya, menghakiminya atas kiriman sms dan e-mail. Tapi, saya tidak tahu, yang pasti di Banten nanti saya akan bertemu kembali dengan beberapa kawan CWI. Yang patut diketahui gayagaya rayuan gombal antara penyair dan penulis sangat berbeda (maklum punya pengalaman), bagi saya rayuan penyair itu lebih gombal dan terlampau membumbung dibandingkan dengan rayuan seorang penulis, yang blakblakkan. Tapi kehadiran lakilaki dalam harihari saya selalu dinikmati dengan kehatihatian, saya takut hanyut terbawa arus. Begitulah, banyak lakilaki yang berkelindan dalam ingatan namun tak satupun dipegang kukuh. Sampaisamapi WAG berseloroh: saya adalah perempuan pemangsa lakilaki. Ya Tuhan, ini tidak benar! Saya menginginkan seseorang yang dapat menerima saya apa adanya. Amin.

Perselingkuhan…

Setiap kawan yang bertanya siapa pacarmu? Saya selalu menjawab kekasihku adalah puisi, selalu begitu. Hingga akhirnya pada awal Desember 05 saya bersepakat pada diri saya sendiri untuk berselingkuh. Mengapa? Ini soal kehidupan, ketika honor puisi tak mencukupi biaya hidup saya harus beralih menulis yang lain. Ketika menyadari saya tak pandai menulis esai, cerpen merupakan pilihan kedua setelah puisi. Namun sampai sekarang saya belum bisa menghasilkan cerpen yang bagus. Saya masih membaca banyak cerpen karya siapa pun. Saya sungguhsungguh ingin membuat sesuatu yang monumental, agar diingat banyak orang. Sebuah ambisi yang saya yakin dapat merealisasikannya dengan usaha yang keras. Ya! Saat ini saya sedang berselingkuh, walaupun karya yang dihasilkan tetap puisi. Mungkin karena saya tipe perempuan bersetia, sesuatu yang mungkin kan?

Cara Melupa?

Ingatan seseorang kadang tersangkut di jeruji ruang hampa, mengambang. Lapislapis atmosfer sepertinya ingin meluruhkan setiap kenangan. Setiap orang pastilah memiliki kenangan, manis, pahit, atau tak berasa sekalipun. Sulit memang melupakan seseorang, seperti saya. Perlu waktu satu tahun melupakan seseorang bernama LD, dapat dikatakan cinta pertama saya. Seorang penyair dari Tasikmalaya yang kini bekerja di Bogor sebagai… (entah saya tidak tahu). Puisipuisi saya banyak yang lahir karena dirinya, LD mengatakan cinta yang kami jalani merupakan cinta platonik. Yang pasti sampai sekarang saya tak mengerti dengan istilah ini, walaupun LD telah menjelaskan. Saya menikmati percintaan kami yang ganjil, tapi biarlah, karena semua membiaskan kenangan yang tak terhingga. November lalu (2005) saya benarbenar ambil keputusan meninggalkannya, namun ternyata sulit. Sampai kini saya selalu mengenang dan berharap. Tapi, sudahlah! Jika memang berjodoh mungkin nanti bertemu lagi. Melupakannya merupakan proses yang panjang, satu tahun, setelah berbagai lakilaki datang pergi silih berganti, sosoknya yang kelu tetap membekas di hati. Perjumpaan yang direntangkan jarak seolah membekas di setiap ingatan. Jalanjalan kota Bandung (Cipaganti, Jurang, Dipati Ukur, Cicaheum) sepertinya menariknarik setiap ingatan. Tasikmalaya yang penuh kenangan, para seniman yang bergelut di Gedung Kesenian Tasikmalaya (Jln. Dadaha), atraksiatraksi begitu saja melintas. Rencananya tahun ini saya akan mengunjungi Tasik, menuntaskan penelitian untuk skripsi saya tentang: Makna Perjalanan dalam Puisi-puisi Acep Zamzam Noor (mohon didoakan agar semuanya berjalan lancar dan cepat selesai). Semuanya berjalan apa adanya, mungkin ini telah digariskan sang penguasa semesta. Melupakan? Sepertinya diendapkan saja untuk dijadikan bahan tulisan atau kenangan yang membawa kita pada ruangruang tak bernama.

Keluarga…

Saya anak pertama, adik saya dua, lakilaki di SMU dan perempuan di SMP. Saat ini saya sedang kesal dengan orang rumah, mereka selalu mengeluhkan saya yang tidak bekerja. Ya mungkin saya harus mawas diri. Di lingkuangan tempat tinggal saya, perempuan/ lakilaki seumurku (13 Desember 2005, tepat 22 tahun) sudah menghasilkan uang. Tidak dibiayai lagi oleh orang tua, sedangkan saya masih kuliah dan ini mungkin merepotkan mereka. Saya juga tahu diri, pernah melamar pekerjaan sesuai lowongan di koran. Hasilnya, ya begini: tetap menulis (walaupun penghasilannya tidak tetap). Entah mengapa saya tidak pernah tertarik bekerja menjadi pramuniaga, mungkin dikesalkan dengan persyaratan: tinggi harus sekian, berat harus sekian, cantik, dan lain sebagainya.sedangkan saya seseorang yang tahu diri: seorang yang pendek, gemuk, tetapi saya masih berbangga hati memiliki temanteman yang beragam. Masih dapat menunjukkan hasil kerja saya jika dimuat di media. Yah begitulah, semuanya saya nikmati dan saya syukuri.

~CSH, L. As, WAG, dan kawankawan MnemoniC~

Mungkin saya seseorang yang beruntung mendapat kesempatan menimba ilmu pada orangorang penting seperti mereka. Bersama CSH (terdengar asing di telinga, karena saya memanggilnya Pak C.) kami diajarkan bagaimana menarasikan/ mendeskripsikan sesuatu. Bermula dari mendeskripsikan diri sendiri, tempat, waktu, tokoh, dialog, dan mencampurkan semua racikan itu menjadi sebuah cerpen. Tapi sampai sekarang saya belum menghasilkan cerpen yang bagus, entah kapan, saya masih harus berlatih keras. Diajarkan juga bagaimana mengedit naskah (meneliti huruf per huruf) dan diajarkan juga merawikan khayalankhayalan.

Saya tidak terlalu dekat dengan L. As (di Pentagon sering di panggil Aki). Mungkin hanya jadi pemerhati saja karena dia senior saya. Sekarang (kata anakanak Pentagon) L. As ada di Sukabumi, mengajar. Entahlah sudah lama saya tak melihatnya. Sosok yang satu ini sering disebutsebut penyair terkaya di Pentagon (Gedung kuliah yang seharusnya sudah dihancurkan), mungkin disebabkan setiap mengeluarkan uang untuk konsumsi diskusi reboan ASAS selalu yang paling besar.

Tahu mata uang yang besisian?

Mungkin itulah hubungan yang terjadi antara saya dengan WAG. Selalu menempel bersamaan, tetapi tak pernah muncul dalam waktu yang sama. Banyak ilmu puisi yang saya dapat dari WAG (kata WAG, dia dapat dari L. As). Dahulu, dia sering menilai puisipuisi saya. Sekarang tidak lagi, mungkin karena dia telah memberikan kepada saya untuk belajar sendiri. Atau mungkin sekarang kami samasama disibukkan dengan perkuliahan. WAG sekarang kuliah di STSI jurusan teater. Sebenarnya tahun ini saya ingin sekali melihat dia manggung, tapi lagilagi terbentur pada sebuah pilihan (WAG harus memilih latihan teater atau mengikuti diklat Unit Kegiatan Mahasiswa yang berbau pecinta alam), dan WAG memilih pecinta alam. Kata WAG, kalau saya ingin melihat dia berteater harus menunggu tahun depan. Yah… apa boleh buat pilihan sudah ditentukan.

Berawal dari Tobucil, Klab Baca Pram (yang juga ada di Tobucil), benihbenih MnemoniC mencuat. Kemudian diskusidiskusi yang beralih tempat menjadi di taman. Saya dan SD anggota MnemoniC dari awal pembentukkan, sisanya adalah orangorang baru seperti: WAG, FS, PG, MA, MD, US, E. SR, dll. Walaupun orangorang lamanya sudah tidak ada (sibuk dengan pekerjaan), saya bersyukur MnemoniC masih berkiprah. Malahan beberapa acara besar pernah dilaksanakan Mnemonic. Rencana terakhir, MnemoniC akan mengusahakan dibuatnya mading yang berisikan karya temanteman MnemoniC dan disebar di toko buku independen.

Dulu, saya pernah naksir seseorang di MnemoniC, namanya HSI, namun dia hanya muncul beberapa kali setelah itu tak pernah muncul sampai sekarang. Pertemuan dengannya menghasilkan cerpen "Tubuh" yang membingungkan saya sendiri sebagai penulisnya.

Kuliah, Ruang Lingkup Pergaulan, Rencana Masa Depan!

Tidak ada yang istimewa, kuliah saya Alhamdulillah berjalan lancar (walau pun ada satu mata kuliah yang saya kontrak ulang). Sekarang temanteman di kampus sering memanggil saya penyair atau sastrawan, sesuatu yang berlebihan bagi saya yang belum bisa menulis secara baik. Tapi itulah sebuah penghargaan yang harus saya hormati, harus saya terima dan disyukuri. Doakan saja penelitian saya berjalan lancar, jadi Oktober tahun ini saya sudah dapat memangku gelar Sarjana Sastra, dan mudahmudahan segera mendapatkan pekerjaan, mohon doanya.

Saya memiliki penyakit pelupa yang parah. Penyakit ini kambuh jika saya berkenalan dengan seseorang. Seketika itu, saya lupa nama kawan baru saya. Beberapa tips sudah saya lakoni guna mengingat teman baru dan lumayan berhasil. Saya orang yang cuek terhadap apapun dan terhadap siapapun, tetapi saya seseorang yang dapat membaca suasana. Membaca gerakgerik lingkungan di sekitar saya.

Jadi punya keinginan ketika saya diwisuda ada seseorang yang mendampingi saya (selain orang tua), tidak mutlak. Tapi saya akan mengusahankan dengan berbagai cara.

Salam

Mungkin ini catatan singkat dari berbagai peristiwa yang pernah saya lalui. Hanya untuk lahapan Teteh seorang, bukan untuk sesiapa. Terima kasih untuk tidak menceritakan pada orang lain, termasuk orang terdekat Teteh. Akhirnya saya menemukan seseorang yang gemar berkorespondensi seperti T' A. (surat teteh baru sampai kemarin, Kamis 19 Jan 06). Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, bukan melulu tulisan, tapi juga curahan hati. Semoga memberi kesan baik, bagi siapapun. Maaf jika ada kata yang menyinggung (Maaf, saya tak kuat menulis lebih banyak seperti T' A.). Cerpennya belum saya revisi, banyak pekerjaan lain yang harus saya dahulukan.

Terima kasih.

Salam dari SudutBumi, 28 Januari 2006 ~ 2:24

DeHa

BEWARA

===============================================

Kirimkan minimal enam puisi (tema bebas) dengan tahun pembuatan 2002-2006

ke: Sekretariat MSJ (Masyarakat Sastra Jakarta)

PDS HB Jassin

Jln. Cikini Raya No. 73, TIM, Jakarta

Untuk dibukukan dalam Antologi Puisi Penyair Perempuan Indonesia Mutakhir

Paling lambat 30 Maret 2006, beserta biografi, dan foto.

Ketika Rindu Menemu Jejarak

SudutBumi, 31 Januari 2006 ~ 11:49

Satu bulan sudah…

Ketika Aku mendapati hari mendadak siang dan menyadari ketiadaanmu, Aku menyesal. Mengapa tidak seperti hari kemarin: Aku bangun pagi, mandi, dan segera menemuimu. Sesal yang betapa. Dan Aku pun kecewa, padahal malam sebelumnya Kau berjanji akan berangkat siang hari dan menemuiku terlebih dahulu. Akh, mengapa selalu sesal yang datang kemudian. Mengapa?

Kau tahu, dari sekian nama yang tertera dalam undangan itu, Aku segera menandai namamu. Sebelum pertemuan kita, ada firasat di hatiku yang menyiratkan namamu. Namamu yang tertulis tiga kali: Lubis Grafura, Lubis Grafura, Lubis Grafura. Dan ternyata benar, setelah pertemuan itu. Siang hari Kau bersama kawanmu menanyakan di mana gedung registrasi dan Aku menunjukkan tempat. Beberapa saat kemudian Kau datang dan segera mengenalkan namamu dan temanmu. Kau masih ingat ekspresiku? Yang tibatiba saja berseru "yang cerpennya tiga kan?" Dan Kau hanya tertawa ketika itu.

Setelah itu Kau mualmual karena Aku selalu mengucapkan kata "GUBRAK!", berkalikali bahkan berulangulang. Dan Kau pun tertawa terbahak ketika teman sekelasku mengenalkan namanya sebagai Ariel Peterpan. Aku masih ingat semua tingkah lakumu, tawamu yang aneh, semua yang ada di dirimu tanpa terkecuali, juga cara merokokmu. Kau tahu Aku tidak suka lakilaki perokok!

Pembicaraan yang tak jauh dari tulisan, melulu tulisan. Aku tidak begitu suka cerpenmu yang terkesan populer. Tetapi, Aku suka ideide yang Kau sampaikan begitu sederhana namun mengena. Aku suka "Lilin yang Tak Pernah Padam" jika katamu kisah ini mengenai perempuan yang sulit melupakan cinta pertamanya, maka cerpen yang Kau tulis ini merupakan penjelmaan diriku. Kau tahu betapa Aku terhanyut dalam luapan kegelisahan. Mengenangkan sesuatu yang telah berlalu dan sampai saat ini masih kukenang. Aku lilin yang menjelma dalam keseharian, Aku lilin yang menyusup dalam ronggarongga tubuhmu, Aku lilin yang selalu di caricari orang ketika aliran listrik mati, Aku lilin bagi kehidupanku sendiri, Aku lilin, lilin….

Jakarta, kota yang tak pernah Aku bayangkan sebelumnya untuk singgah dan bertemu orangorang seperti kalian. Temanteman yang tibatiba saja menumpahkan inspirasi pada puisipuisiku. Kau tahu siapa kekasihku? Puisi, ya kekasihku adalah puisi. Dan Kau harus tahu, setelah pertemuan denganmu tibatiba saja terbersit dalam pikiranku untuk berselingkuh. Berselingkuh menuliskan cerpen__bersamamu tentunya. Mungkin waktu menjadi singkat ketika inisiasi antara aku-kamu, kita-temanteman, kita-mereka, mereka-aku menjadi sebuah bungkil bunga yang harus ditumbuhkembangkan. Ruangruang yang dipenuhi asap rokok, malammalam dipenuhi canda tawa, kampung halaman yang untuk sementara waktu ditinggalkan. Semua menanamkan kenang di kemudian hari.

Sampai hari ini, betapa Aku menyesal tak bertemu denganmu sebelum keberangkatan, sebelum perpisahan kita, sebelum semua menjadi kenangan manis. Ketika cerpencerpen dibacakan. Malammalam di taman dekat pelataran parkir. Di jalanjalan menuju Blok S. Semua telah Aku bekukan agar tak hilang dari ingatan. Sampai saat ini, hari terakhir di bulan Januari di awal tahun 2006. Bagaimana kehidupanmu setelah tahun baru Kau jelang? Semoga harapan masa datang menyeruak dengan sempurna dan nyata.

Tibatiba saja mengganggu…

Aku adalah perempuan yang mudah jatuh hati dan sulit melupakan. Perempuan anti sentuh, perempuan yang telah bersenggama dengan kesunyian, perempuan yang hamil katakata dan melahirkan ratusan bahkan puluhan ribu puisi. Perempuan keras hati yang tak luluh ketika melihat tata sosial masyarakat berantakan. Perempuan yang sulit mengeluarkan air mata untuk kemanusian. Perempuan hanya perempuan, tak lebih. Mungkin Kau lebih tahu mengenai sisi balik perempuan. Kau melulu menuliskan perempuan dalam cerpenmu, Kau juga memenangkan penulisan All About Women 2005. Entahlah, Aku tidak tahu yang ada dalam pikiranmu mengenai perempuan.

Aku adalah sosok yang sulit tertembus rayuanrayuan gombal para lelaki. Maka tidak aneh jika tibatiba saja seorang lakilaki mengatakan "sayang" padaku. Tidak mudah mendapatkan Aku dan Aku pun tidak begitu saja menelan semua katakata lelaki itu. Tahu arti bersetia? Semoga saja Kau lakilaki bersetia pada apapun. Bersetia pada katakata, tanggung jawah, waktu, kepercayaan, lingkungan, orangtua, kekasihmu, bahkan bersetia pada dirimu sendiri, dan tidak menjadi pecundang.

Lantas apa Aku salah jika Aku membenci sosok lakilaki beristri yang tibatiba mengobral katakata. Di mana ingatannya sampai melupakan perempuan yang telah dinikahinya, di mana ingatannya ketika harus berjarak dengan buah hatinya, di mana? Semoga Aku tidak salah membencinya. Ya, Aku tahu. Tidak baik menjadi seorang pendendam. Tapi sebagai seorang perempuan Aku dikhianati. Aku terhina. Seharusnya lakilaki itu dapat menempatkan posisi dengan baik di setiap ruang geraknya. Jangan sampai melukai perasaan istri dan anaknya. Apakah Dia tidak ingat Ibunya yang juga seorang perempuan?

Aku pun tak salah jika membencinya. Bukan hanya padaku lakilaki itu bersikap mengumbar katakata. Pada perempuan lain, pada temanku dia begitu. Apakah semua perempuan akan dia jadikan tempat sementara ketika keluarga tidak berada dekat dengannya? Itu salah bukan! Dan ini yang Aku tidak suka darinya. Karena DIA TIDAK MENGHARGAI PEREMPUAN. Itu saja!!!

Kau tahukan siapa yang Aku maksud? Dia teman sekamarmu. Terima kasih (semalam) telah menenangkan pikiranku dan mau mengerti keadaanku saat ini. Matur Nuwun….

Para Kekasih…

Ketika lanskap Bromo menggenang di benakku, Aku pun muntah di pundakmu. Membasahi bajubaju kusutmu dengan ceracau kesetiaan. Dan Kau tetap menanti arah datang angin gunung. Kau tak pernah percaya padaku, Kau tetap membelakangi pasirpasir di mataku. Bahkan Kau pun bergegas tinggalkan sebongkah kenang yang telah kita pahat bersama. Adakah anganmu berseliweran di lerenglereng tak bernama, menanti petikan kecapi dari Parahyangan ataukah Kau menantikan alunan debur ombak dari Parangtritis. Tidak. Kau tetap di sana entah dengan siapa atau bahkan tanpa sesiapa. Dan Aku di sini. Menatap kawah Tangkuban Perahu, sendiri. Hanya di temani kabutkabut bau belerang. Angin dingin menusuknusuk ulu hati. Nyeri. Kau di kotamu dengan siapa???

Rencana Kamu, Aku, Kita….

Point pertama

Katamu: "Aku buat cerpen kamu buat puisi"

Mengapa tidak kita gabungkan tulisan kita? Mengapa harus ada kamu yang cerpen dan Aku yang puisi? Tapi mari kita pikirkan secara realistis. Jika memang kelak akan diterbitkan kita harus tahu, saat ini pembaca suka tulisan berjenis apa? Bukan hanya itu, kita pun harus memikirkan kepentingan penerbit, apakah penerbit akan mau menerbitkan tulisan kita yang campur (prosa dan puisi), tidak murni prosa? Jika dimungkinkan penerbit mau menerbitkan jenis tulisan apa saja, mengapa kita tidak menulis tulisan yang unik, bahkan aneh sekali pun. Walaupun begitu Aku setuju saja jika kamu cerpen dan Aku puisi. Tapi berikan kesempatan bagiku untuk menuliskan cerpen, selama ini Aku selalu bergumul dengan puisi, Aku ingin mencicipi aroma tubuh makhluk lain: bernama cerpen.

Point kedua

Katamu: "tema apa yang bisa kita angkat untuk menjadi benang merah kita?"

Berhubungan dengan point pertama, kita harus dapat menyiasati bagaimana tulisan yang bergenre berbeda ini dapat dipadukan. Puisi dengan bahasa super padat dan prosa dengan kalimatkalimat kompleks dan berisi. Beberapa novel pernah diterbitkan menggunakan tipe seperti ini. misalnya saja dari salah satu buku Dewi Lestari. Kalau tidak salah buku Dee yang pertama menyertakan baitbait puisi. Selain itu buku yang ditulis Andi Lotex bertajuk "Kau Bunuh Aku Dengan Cinta" dibuka dengan puisi panjang penulisnya. Novel "Beraja" yang ditulis oleh Anjar meletakkan puisi dalam babbab baru sebagai penyegaran terhadap pembaca. Bukubuku populer ada yang menyertakan puisi di halaman dalamnya. Jadi kalau kita sepakat akan menggabungkan dua genre sastra ini dalam satu buku, kita harus menentukan berapa banyak persentase prosa dan persentase puisi. Apakah memungkinkan jika satu halaman prosa kemudian satu halaman puisi. Apakah pembaca tidak akan muntah? Karena dalam novelnovel yang pernah saya baca, puisi hadir hanya sebagai pelengkap. Sebagai pemanis, berfungsi menggiring pembaca untuk mengawang. Hanyut dalam alur cerita.

Lalu tema apa yang harus Aku dan Kamu sepakati? Banyak hal dalam kehidupan ini yang perlu diangkat. Bukankah cerpencerpenmu selalu menghadirkan ide yang tidak disangkasangka? Yang pasti kesatuan dan keseimbangan dalam sebuah cerita harus di bangun. Masalah benang merah kita ambil saja yang sedang populer saat ini, atau bahkan yang sureal sama sekali. Hentakanhentakan dasyat harus dibangun untuk menghasilkan karya yang monumental. Mari kita pikirkan benang merah cerita yang akan kita garap!

Point ketiga

Katamu: "kita melakukan persetubuhan dengan sastra (point ini di skip aja!)"

Persetubuhan dalam sastra, persetubuhan seperti apa? Minta penjelasan yang lebih gamblang, biar Aku bisa cari referensi bacaan., tapi mungkin Aku juga mengerti.

Point keempat

Katamu: "Aku kirim cerpen ke kamu dan kamu kirim puisi ke Aku dalam bentuk attachment. Kalau kita sepakat kita masukin ke penerbit. Tapi begini, cerpen atau puisi itu harus baru (buatan Januari 2006 ke atas)"

Mengenai kebaruan karya itu harus! Tanpa mengurangi mutu tulisan karena terburuburu bukanlah hal yang menyenangkan. Ingat setiap tulisan itu harus diendapkan terlebih dahulu untuk hasil yang sempurna.

Ketika Rindu menemu jejarak….

Hai Kau! Apa yang dapat Kau kenangkan dari segala ceracauceracau yang muntah dari hatiku? Tak lebihkah dari sekadar senyum tulus yang tak dapat Aku nikmati. Atau sekadar gelengan kepala karena Kau menganggapku percuma. Suatu kesian karena bagaimanapun Aku hanya mampir barang sejenak di ruang hatimu dan begitu saja Kau meninggalkan semua. Tanpa bekas. Seperti saljusalju yang tak pernah Kau lihat secara nyata. Dingin tak teraba.

Bagaimana pun Aku selalu menyiasati berkehendak denganmu. Mengirimkan pesan singkat tanpa ada jawaban (ya, kecuali malam tadi!), mengirimkan email dengan hasilhasil jawaban yang pendek. Semua telah Aku usahakan, betapapun jarak pisah kecintaan membentang. Puluhan bahkan ratusan kota menujumu.

Mengenai wilayahmu: di sana Aku mempunyai dua orang teman. berawal dari teman kemudian terjalin suatu hubungan dan berteman kembali. Kota yang masuk dalam catatan sejarah kisahkisahku. Kota yang ingin kudatangi suatu kelak. Kota yang menjadikan Aku mengutuk seorang lelaki karena dia salah memilih perempuan. Kota yang memuat salah satu cerpenku di sebuah harian kecil. Kota yang dilukiskan Remy Sylado sebagai "Kembang Jepun". Kota yang salah satu simbolnya menggambarkan buaya dan seekor ikan. Kau jangan menjelma buaya di sana dan di kota manapun. Kota hanya kota, tak lebih dari sebuah angan.

Masih dengan Rindu yang Sama

-lantun doaku-

masih dengan rindu yang sama

aku sepakati segala gundah hati

kecintaan yang tak pernah reda

gelegar, kisikisi hati

entahlah

mengapa aku masih bertahan

dengan rasa samar tak mewujud

karenamu semua ditikam sunyi

harapan masa datang

ah, betapa

bulanbulan mencermati pesonamu

senyum di ujung hari yang tak kudapati

kau, masihkah rasakan gelombang berguncang

perjalanan di ujung hari

pernahkah kau rasakan sedikit

lantun doaku

sedikit kenang di benakmu

masih dengan rindu yang tibatiba

semua aku ikat dalam buketbuket harap

tuhan pun mendengar

ketika rindu ini memaksa diri

bersatu dengan alam fikirmu

pernahkah kau merasa apa

sungguh aku masih bertahan dengan rindu ini

SudutBumi, 2005

Selalu Kenangan Membeku di Ujung Hari.

Begitulah, selalu Aku tulis suratsurat panjang pada siapapun. Beginilah caraku menyambung silahturahmi, tidak hanya denganmu. Dengan banyak orang. Inilah salah satu kekuatanku menundukkan jarak karena mereka tidak selalu di sampingku, sepertimu.

Salamku untuk semua yang ada di hatimu: orangtuamu, kakakmu, adikmu, seluruh keluarga besarmu, kawankawanmu, penulispenulis di kotamu. Sampaikan juga salam perkenalanku teruntuk kekasihmu….

Salam dari SudutBumi,

Tahun Baru 1427 Hijriah ~14:33~

DeHa

Besi Baja yang Dihantam dari Dua Kubu

SudutBumi, 09 Januari 2006

Teruntuk kekasih La Runduma

Apa kabarmu? Semua pasti baik bukan. Sepertinya aku patut bersyukur pada Tuhan karena dipertemukan denganmu dalam suasana yang membanggakan hati. Sebuah perkenalan di belantara praduga tentang dirimu.

Sebelum pertemuan…

Setiap orang pasti membayangkan dirimu adalah sosok perempuan dewasa yang matang dalam berbagai petualangan baik dalam dunia nyata ataupun dunia maya. Tetapi ternyata kau adalah (maaf) anak kecil yang tak pernah terlintas dalam benakku. Sosok yang unik, yang tibatiba saja aku merindui kebersamaan kita, sepertinya aku patut bersyukur pada Tuhan.

Terima kasih untuk segala kebaikkanmu, keramahanmu, dan semua yang ada pada dirimu. Aku banyak belajar darimu, tentang tulismenulis, tentang sikap, tentang apapun, yang paling penting tentang kerendahan hati. Kau harus tahu: aku adalah sosok angkuh yang teramat sulit berendahhati, maka ajari aku tentang kelebihanmu ini.

Aku tak pernah membayangkan datang ke ibu kota negara, bertemu orang baik sepertimu, menikmati jalanjalan seru, dan lain hal, tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dalam bayanganku Jakarta adalah kota yang kejam, sampai saat ini. Ingin sebenarnya lebih lama tinggal di kotamu, menjelajahi rimba pencakar langit, sungaisungai keruh penuh sampah yang selalu aku lihat di televisi, menaiki busway, mencicipi semua kendara yang ada di kotamu tanpa bawaan berat.

Ya, banyak keinginan untuk melakukan apapun di kota metropolitan, memecah kerumitan dalam otakku mengenai denah jalan di kota yang setiap tahunnya menerima arus urbanisasi. Menembus rentang: dari Monas ke Ancol, dari Sarinah ke berbagai arah mata angin, Utara, Selatan, Timur, Barat, Tenggara, dan semua.

Mendengar ceritamu, tibatiba saja aku seperti lempengan besi yang menembus medan kutub, besi baja yang dihantam dari dua kubu berlawanan. Semoga aku tidak berlebihan dengan istilah ini. Ya, aku besi yang dapat menempel di kutub manapun. Kau kutub Utara dan Dia adalah kutub Selatan. Sebuah persinggungan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, sebuah cerita yang sebelumnya aku tak akan pernah menyangka kalau kau adalah kekasih seorang penyair besar. Karena apa? Karena aku merasakan sang Resi menempanempa pikiranku, tubuhku, ingatanku tentang Pasundan, cerita tentang diri dan rindumu, cerita tentang Dia.

Sejak kepulanganku dari Jakarta sebenarnya aku ingin mengirimkan tulisan ini, tapi baru hari ini aku dapat menulis di antara rentang kesibukan yang menyurutkan waktu. Sebenarnya juga aku ingin mengatakan ini sebelum kepulanganku, tapi aku merasa tak yakin aku kuat menceritakan ini. Oleh karena aku tak pernah menyangka, tak pernah!

Kau serta kekasihmu dan Dia serta kekasihmu.

Aku adalah seseorang yang dapat membaca situasi di sekeliling, seorang perempuan yang mudah jatuh cinta tapi sulit melupakan. Seseorang yang anti sentuh, keras hati, narsis, dan lain sebagainya.

Malam itu ketika pertama kali menerima telepon dari kekasihmu aku menaruh curiga yang besar. Tiba-tiba saja aku berbicara dengan lakilaki yang pernah kutemui di Bandung, sebuah hal yang tak pernah terjadi. Kau tahu aku dan lakilaki itu jarang sekali bertegur sapa, bertemu pun hanya saling memandang, kalau tidak salah pernah sesekali terlibat dalam pembicaraan pendek. Selebihnya tak pernah, sampai kedatanganku ke Jakarta dan aku duduk di sebelahmu.

Rasa curigaku semakin meradang ketika di layar ponsel tertera tulisan "cintaku". Setelah kau keluar ruangan, konsentrasiku berkurang pada acara workshop tapi untunglah itu tidak berlangsung lama. Karena aku berani menyimpulkan kau adalah kekasih lakilaki itu. Pikiranku menerawang, mengingat peristiwa beberapa bulan lampau di kotaku. Ketika lakilaki yang datang ke Bandung membawa salam dari gurunya untukku, aku ingat ketika lakilaki ini berpamitan menuju Jakarta dan Dia mengantarnya menuju batas kota. Aku tahu lakilaki ini akan menemui kekasihnya di Jakarta dan ternyata kekasihnya itu adalah Kau. Seseorang yang tak munculmuncul ke dalam ruangan. Aku mengambil kesimpulan: kau asyik berbincang dengan kekasihmu di telepon.

Ternyata dunia itu kecil …

Sampai akhirnya aku benarbenar percaya kau adalah kekasih lakilaki itu. Aku berbicara dengan kekasihmu melalui ponsel ketika menikmati malam di Jakarta setelah semua rangkaian acara berakhir. Malam yang menjadi kenangan tersendiri bagiku, bersama kawankawan baru berbagi jokejoke, aku pun menikmati semangkok hidangan yang mendinginkan tenggorokanku.

Sampai akhirnya aku datang ke rumahmu, memasuki kamarmu, membaca puisi yang tertempel di dinding dari kekasihmu. Sampai kau bercerita dan dugaanku benar! Kau kekasih lakilaki itu. Kau tahu bagaimana rasanya ditempa oleh seorang Resi. Lalu dicelupkan ke air dingin, kembali diperam di bara merah, ditempa, ditempa, lalu aku dibentuk. Hingga aku menyerupai apa yang diingini pemesannya.

Ternyapa pemesannya itu menginginkan aku berlapis medan magnet, hingga aku memiliki dua kutub: utara dan selatan.

Kau kutub Utara

Dia kutub Selatan

Dan aku besi diantara kubukubu itu

Jangan berprasangka buruk padaku…

Kau tahu aku tidak memihak pada siapapun, Utara dan Selatan adalah dua orang yang berbeda namun mereka begitu dekat. Mungkin aku sosok yang beruntung, diamanahi Tuhan merasakan perasaan dua hati manusia yang berbeda. Kau ingat ketika kau menceritakan Ancol dan sebuah masjid lalu memperlihatkan beberapa gambar padaku, pikiranku melayang ke Bandung.

Aku sedang bersama Dia dan beberapa kawan di sebuah monumen di Bandung. Dan aku tahu kau akan menceritakan sms kekasihmu dan sms Dia. Jadi muallaf katamu dan kau tertawa (kau ingat? Saat kau bercerita dikamar) apa yang ada dipikiranku adalah peristiwa waktu lampau.

Sepertinya aku merasakan hidup di dua dimensi yang berbeda, masa kini dan masa lalu.

Masa kini adalah aku sedang berada di kamarmu dengan sepiring batagor dengan bumbu kacang yang kental. Masa lalu adalah ketika kau membawaku secara tidak sengaja dengan ceritaceritamu ke masa lampauku, masa beberapa bulan sebelum aku bertemu dengan denganmu.

Apa yang kau ceritakan sama dengan atau persis yang Dia ceritakan. Kau tahu bagaimana bentukan besi yang ditempa dengan sama kuatnya. Kau tahu mungkin aku satusatunya makhluk Tuhan yang diberi kesempatan seperti ini. Merasai hati perempuan yang berbunga karena satu lakilaki. Aku tak pernah menyangka, tak pernah! Apakah Dunia ini kecil? Ataukah Tuhan begitu baik memberiku kesempatan untuk kita saling berkenalan, aku tak mau salah berprasangka.

Kau dan La Runduma

Kau cemburu? Semoga saja tidak, kalau pun ada sedikit rasa cemburu aku menunggu cerita yang akan kau tulis karena rasa cemburu itu. Tapi aku percaya kau akan bertindak bijak, berpikir matang, dan dengan kerendahan hatimu kau akan tersenyum, sekarang kau tahu bagaimana perasaanku saat itu dan saat ini. Maka tersenyumlah kekasih La Runduma, karena aku menyukai senyummu… sungguh!

Maaf aku tidak sedang merayu siapapun,

Sesampainya di Bandung aku segera menghubungi beberapa kawan, aku ingin segera berbagi cerita pada mereka semua, tentang Jakarta, tentangmu, tentang ketakpercayaanku pada apapun. Kau tahu, ketika kekasihmu mengatakan akan menemui pacarnya, yang ada dalam bayanganku adalah seorang perempuan yang sebaya dengan lakilaki itu, tapi dugaanku salah, ternyata kau sebaya dengan Dia. Dia pun tak menyangka bahwa kekasih lakilaki itu adalah Kau.

Dia tahu fotomu, tulisantulisanmu, karena aku memperlihatkan pada semua kawan siapa itu sosok di balik dirimu.

Sungguh aku menghormatimu,

Sudah kukatakan aku banyak belajar padamu, ketika kau menceritakan proses kreatif La Runduma, Bulan Gendut…, diamdiam aku mencuri ilmu darimu (maaf aku baru mengatakannya sekarang). Aku menyukai ceritacerita yang kau tulis, banyak tanya ketika membaca cerpenmu, semoga kamu mau menceritakan proses kreatif dari semua cerpenmu.

Semoga apa yang aku kabarkan padamu melalui tulisan ini dapat kau mengerti, dan aku yakin kau bukanlah anak kecil seperti sangkaanku. Sungguh aku tidak berlebihan, apa yang aku luapkan adalah cerita yang dieram dalam jangka waktu beberapa hari bahkan minggu. Sampaikan salamku pada orangorang yang mengelilimu, salam kenal, salam hangat dariku di SudutBumi.

Salam,

DeHa

Perjalanan Malam Hari

SudutBumi, 16 Agustus 2006

sehari sebelum hari kemerdekaan tahun ini. apakah saya sudah merdeka? sepertinya belum!

masih punya banyak cerita terpendam akan yogya?

pertanyaan dari teteh membuah saya tersenyum, lebar sekali.

malam tanggal 2 agustus 2006 saya temukan dua bungkusan di tempat tidur. pertama, amplop coklat yang menggembung, kedua surat dari teteh. label bank jabar di amplop itu membuat saya bersegera membuka bungkusan. ternyata isinya kotak biru beludru yang berisikan plakat ucapan terima kasih atas keikutsertaan saya dalam lomba artikel. lomba kali ini saya kalah lagi. tak apa! bagi saya ini adalah sebuah proses dalam menulis.

malam tanggal 2 agustus 2006 adalah kepulangan saya setelah delapan hari saya berkunjung ke yogyakarta. sebuah perjalanan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. sekira pukul delapan saya dijemput wag dan sd di stasiun kiaracondong. seperti keberangkatan saya kemana pun, pulang selalu disertai banyak bawaan. seperti kali ini.

saya tak pernah menduga akan bertemu seseorang bernama it. saya tak pernah menduga, tak pernah menduga akan menggariskan suatu kenangan dengan sosok bernama it. saya tak pernah menduga. tak pernah menduga.

desember 2005 inbox email saya sudah dipenuhi suratsurat dari it, begitu saya memanggil dia. it yang memulai, merangkairangkai puisi saya, mengirimi saya suratsurat panjang. it yang memulai, menceritakan masa lalunya, memaparkan segala keburukannya, dan berbagai hal. it yang memulai. saya hanya menanggapi seumpama layaknya teman baru, seumpama penulis menyapa pembacanya, seumpama temanteman kampus. saya tanggapi emailnya, surat panjangnya, ceritaceritanya.

tak diduga, saya harus berangkat ke yogya. harus. dan semua kisah itu terangkum dalam benak saya, sampai saat ini. malammalam sebagai pejalan, malammalam tanpa tidur, malammalam yang patut dikenangkan.

malam 24 juli 2006

senin malam saya ditemani wag menuju stasiun kiaracondong. malam keberangkatan saya yang seorang diri menuju yogya, kota yang pernah saya singgahi waktu kecil. saya tak pernah lagi menjejakkan kaki ke yogya, dan malam itu banyak ketakutan menghampiri saya. dengan petunjuk yang diberikan bapak, dengan peta buta yang diberikan sd dan wag saya beranikan diri untuk datang ke yogya. saya diundang sebagai peserta workshop penulisan yang diadakan oleh lafadl dan desantara. sebuah komunitas yang bergerak dibidang cultural studies (cs). saya dipilih dari 57 pendaftar. seminggu sebelum keberangkatan saya sudah menghubungi temanteman di yogya. temanteman cwi. mereka semua siap menerima saya, menampung saya, dan menjanjikan suatu kenyamanan selama di yogya. saya berlega hati untuk tidak terlalu khawatir. tetapi untuk sebuah keberangkatan saya begitu berdebar, gemetar. malam keberangkatan menyebabkan perut saya sakit, mungkin karena tak biasa. mengantri membeli karcis berdua dengan wag. wag yang antri di depan saya meminta uang, saya keluarkan uang limapuluh ribuan. tak disangka wag membeli dua karcis, saya kaget, tak menduga. karena saya tahu wag tidak membawa persiapan apapun. karena rencananya hanya akan mengantarkan saya sampai stasiun. maka perjalanan saya tak sendiri, berdua dengan wag yang hanya tersenyum melihat kekagetan saya.

pagi 25 juli 2006~sekira pukul lima

saya telpon it melalui ponsel. it telah menyanggupi diri akan menjemput saya di lempuyangan, dan it tidak pernah tahu kedatangan saya ke kotanya diantar wag. ternyata dia masih di kosan, saya menunggu. tak berapa lama sosok itu muncul dan mencaricari saya. selama ini komunikasi saya dan it hanya berupa kata. kami tak pernah bertukar foto, tak pernah menjelaskan ciri fisik, tak pernah menyinggung soal wajah. saya pun menunggu sosok yang tak pernah saya tahu sebelumnya. mungkin berbeda dengan it yang telah melihat wajah saya di fotofoto yang dimiliki rl. foto ketika malam pembacaan puisi di selasar sunaryo bandung, seingat saya, saya pernah difoto. it juga pasti telah melihat foto saya di majalah horison. jadi ketika ada sosok lelaki menghampiri saya, pastilah dia it. dan benar it sempat bingung karena saya tak sendiri, tentunya dia mencari sosok perempuan yang sendiri bukan berdua seperti pagi itu. setelah bersalaman kami memutuskan segera menuju kosnya, di sana sudah ada sta, p, r, dll menunggu kedatangan saya. betapa kehadiran saya telah dinantikan banyak orang. dan saya tidak tahu apa yang sudah it ceritakan tentang saya.

kosan it ~sekira pukul enam

beberapa teman it sedang belajar, mereka mau masuk uin dan hari itu ujian masuknya. begitu saya datang semua bubar, saya ditemani p sedangkan it balik lagi ke stasiun untuk jemput wag menggunakan motor. tak berapa lamu sta datang. kami seperti sudah lama kenal, obrolan begitu saja menghilangkan lelah dan kantuk saya. wag datang. semua berkumpul di kamar it yang tak seberapa luas. gorengan dan teh hangat tersaji. sampai akhirnya kami harus berpisah, mereka semua harus pergi mengikuti ujian. tersisa aku, wag, dan it.

kamar sebelah~sekira pukul delapan tigapuluh

adalah mja yang karena gempa pulang ke rumah orangtuanya, kamarnya yang berada di sebelah kanan kamar it dibiarkan begitu saja untuk dipergunakan beberapa teman selama kepergiannya. sementara wag tidur di kamar it, aku dan it berdua di kamar ini. mendengarkan radio dan membaca beberapa koran yang berserakan. Aku berikan koran pikiran rakyat yang memuat puisi it, aku berikan pesanan yang dia minta sebelum keberangkatanku: beberapa pembatas buku, royalti pemuatan puisinya, cerpen terbaruku, dan aku juga memberikan pewangi ruangan beraroma apel padanya. di ruangan itu kami berbincang, melanjutkan beberapa hal yang sempat kami bahas di email, surat, dan sms. sampai pukul sepuluh kami ngobrol, datang am dan aku undur diri bersegera mandi. selanjutnya adalah perjalanan menuju tempat workshop.

it mengenalku sebagai sosok manja dengan segala keinginan yang harus dituruti. memperlakukan aku seperti anak sma, ya karena kemanjaan yang memang aku ciptakan dihadapan it. padahal aku bukanlah sosok manja, bahkan aku benci pada perempuan manja. tapi di hadapan it, manja itu tumbuh begitu saja.

pertemuan dengan it menghancurkan sedikit bayangan yang kucipta terhadap sosok yang maya ini. dalam bayanganku, it adalah seseorang yang sesuai dengan keinginanku. tapi pada kenyataannya, aku sedikit kecewa dengan apa yang ada dalam diri it. aku kecewa. tidak salahkan jika aku menciptakan sosok it sesuai keinginanku. setelah pertemuan itu aku harus menerima, ini adalah konsekuensi yang harus aku terima. mungkin hal ini sama dirasakan it. mungkin dia juga telah membangun sosokku di benaknya dan itu hancur setelah pertemuan. mungkin. aku tidak tahu.

siang hari~sekira pukul sebelas tigapuluh

setelah mandi, makan berdua, aku melanjutkan perjalanan ke daerah sinduharjo, ternyata letaknya berada di utara yogya dekat dengan merapi di jalan kaliurang. wag sementara ditinggal sendiri. beberapa hari sebelumnya, it telah menyurvei tempat itu. dan siang itu aku dibonceng motor menuju utara. it tahu aku phobia naik motor, dia dengan senangnya mempermainkan laju motor sedangkan aku berteriakteriak. di yogya jarang sekali ada kendaraan umum, saya jadi mengerti mengapa yogya penuh sepeda. dan saya terpaksa naik motor.

sav puskat~sekira pukul duabelas tigapuluh

di tengah jalan saya sudah ditelepon panitia, ternyata perjalanan yang sangat jauh menyebabkan saya terlambat beberapa menit. Sampai di sekretariat lafadl, saya berkenalan dengan seorang lakilaki yang menjadi penunjuk jalan ke tempat workshop. dari situ ke tempat tujuan jaraknya lumayan jauh, beberapa kali kehilangan jejak. akhirnya sampai juga di sav puskat.

tak disangka saya bertemu ta dari tobucil. ini sangat mengagetkan saya, karena setahu saya perwakilan kota itu hanya satu orang, ternyata bandung menghadirkan dua orang: saya dan ta. empatbelas orang lainnya perwakilan dari berbagai kota di diy dan jateng.

saya membiarkan it sendiri dan berkenalan dengan beberapa peserta lakilaki. setelah registrasi saya menuju kamar tidur, tak pernah saya sangka segala fasilitas yang disediakan. kamar tidur yang luas di anjungan rumah bergaya toraja.

beberapa peserta makan, berhubung saya masih kenyang saya memilih tidak makan dan menemani it sebelum dia pulang. it memperlihatkan koran jawa pos yang terdapat di ruangan itu, di dalamnya cerpen sta dan esai rm dimuat. tak berapa lama saya dan it harus berpisah, dengan perjanjian: tidak boleh telepon. ada sedikit kekecewaan di raut it karena saya melarangnya menelepon. saya hanya mengizinkannya sms, dengan alasan saya tidak mau terganggu dalam pelaksanaan workshop. karena dari awal pertemuan dengan rekanrekan panitia dan peserta, workshop ini serius.

ruang mawar~sekira pukul empatbelas

kami semua berkenalan, dari kota mana dan dari komunitas mana. saya mewakili menmonic. siang itu kami langsung dijejali materi tetang cs oleh st. s. itu semua membuat saya ngantuk, mungkin sama dirasakan beberapa peserta lain yang belum kukenal. apalagi materi ini baru bagi saya, cs, saya biasanya menulis puisi atau cerpen, sekarang saya harus bisa menulis hal kecil dari bebudayaan manusia. ya, yang utama dari cs adalah menuliskan bagian kecil dari peradaban/ kebudayaan manusia yang dapat menyejarah beberapa kurun waktu ke depan.

ruang mawar~sekira pukul sembilanbelas tigapuluh

setelah istirahat dari pukul empat sore sampai magrib dan dilanjutkan makam malam, kami semua berkumpul lagi di ruang mawar. kali ini ada dua pemateri yaitu hs dan ls, dengan materi menulis cs perlu menggunakan teknik penelitian. diskusi ini cukup lama, terjadi perdebatan seberapa penting penelitian dalam cs. larut malam, kami baru bubar dan masuk kamar masingmasing. besok pagi telah menanti pemateri ketiga.

ruang kepodang~sekira pukul sebelas

tidak langsung tidur, membereskan segala hal, cuci muka, ngobrol dengan dua peserta lainnya. namanya si dan el. si peserta termuda, dia kelahiran '87 sedangkan el beberapa tahun di atasku. Setengah duabelas malam masih sms-an dengan it setelah itu tidur.

pagi, 26 juli 2006

saya terbangun karena kaki saya kram. sakitnya minta ampun, mau apa lagi? saya cuma bisa mengaduh dan kesakitan dengan suara ditahan. tak mau mengganggu yang lain. mandi pukul tujuh tigapuluh, makan pukul delapan dan kembali ke ruang mawar. materi kali ini mempersoalkan budaya populer yang ada di yogya, pematerinya adalah dosen bernama su, masih muda, ganteng, tapi sudah beristri. beberapa tampilan tentang popularitas remaja yogya diperlihatkan, ideide kreatifnya hampir sama dengan budaya populer yang sedang berkembang di bandung. terjadi silang pendapat antara 'hurahura' dan hal yang dinamakan budaya populer. sampai siang hari debat kusir ini berjalan, jika tidak ada waktu istirahat mungkin akan terus berlanjut.

siang hari

saya mulai bingung memikirkan hal apa yang akan saya tulis. mulai sore ini akan dimulai pembahasan draf tulisan yang dibawa dari masingmasing kota. draf tulisan milik saya bawa ditolak oleh pemateri, terlalu banyak hal yang ingin saya ungkap. dan saya harus menuliskan tentang bandung, sebenarnya masalah menulis adalah soal gampang. tapi jika kita dihadapkan pada situasi yang berbeda dan terkesan dipaksa semuanya akan membuat pikiran buntu.

siang hari semua draf dibahas, mana yang cocok untuk cs dan mana yang tidak. banyak yang belum membawa draf kebingungan, beberapa orang hanya menyampaikan ide tulisan. it sms, memberitahkan kepulangan wag ke bandung setelah hari sebelumnya ketinggalan kereta. akhirnya saya benarbenar sendiri di yogya. dan kebingungan itu benarbenar mengganggu saya.

sore di kamar tidur

akhirnya it menelepon saya, larangan itu dilanggar juga. lebih baik tiduran daripada memikirkan hal yang tidak menemu ujung pangkalnya. yang lain mandi. saya terbangun karena sentuhan tangan seseorang di kening saya. saya kaget. ternyata mbak nu, salah satu panitia, dia mengira saya deman, saya bilang saja sedang stres, bingung mau nulis apa. ngobrol sana sini, waktunya makan malam.

ruang mawar~sekira pukul duapuluh

ini adalah malam pertama tulisan peserta dibantai. peserta pertama adalah fir dari purwokerto yang mengetengahkan persoalan bahasa daerahnya yang kini tak lagi dipergunakan. kedua peserta dari bogor yaitu as memaparkan tentang kondisi bogor yang makin sepi dari kegiatan seni. kedua tulisan dimentahkan oleh pemateri. hanya dengan pertanyaan "memangnya kenapa?" semua persoalan tak ada gunanya, ketika pertanyaan seperti "memangnya kenapa kalau bahasa purwokerto ditinggalkan? hilangnya bahasa daerah? tak jadi masalahkah." atau pada pertanyaan memangnya kenapa jika sepi dari budaya? pertanyaan sepele itu sepertinya menciutkan nyali seluruh peserta. tak ada yang dapat membela rekan kami sesama peserta. sampai larut malam, lebih malam dari malam sebelumnya.

kamis, 27 juli 2006

hari ini seluruh peserta wajib mengumpulkan tulisan dengan batas waktu jam tujuh malam. saya yang paling terakhir mengumpulkan tulisan. dari pukul tiga sore saya sudah duduk di depan komputer, selesai menulis pukul tujuh. bergegas ke ruang makan, semua rekan tersenyum melihat kedatangan saya. mereka menanyakan kabar tulisan saya. pukul delapan pembantaian itu dimulai.

saya menulis tentang tamantaman kota yang ada di bandung, kemudian menyisipkan mnemonic sebagai pengguna ruang publik. intinya saya memaparkan pemanfaatan salah satu ruang publik. tulisan saya benarbenar seadanya, tanpa data, tanpa pemikiran matang.

pembantaian itu cukup banyak menyoroti kelemahan tulisan saya yang terkesan sastra. cs sangat berbeda dengan sastra, begitu dipaparkan pemateri. memang benar saya lebih banyak menghadirkan suasana dalam tulisan itu. bagaimanan pun saya berangkat dari fiksi. Tapi saya berlega hati dapat menulis di bawah tekanan.

kamis pagi, empat teman kami lelaki semua kabur dari workshop tanpa izin. saya tidak tahu apa alasan mereka padahal tempat workshop sangat jauh dari jalan raya dan angkutan umum. kami harus jalan berkilokilo meter untuk mencapai kota. tapi begitulah, pagi hari mereka telah menghilang dan ketika ditelepon panitia mereka bilang pulang dan takkan kembali. jumlah lelaki berkurang sedang perempuan tetap bertahan empat orang.

jumat, 28 juli 2006

agenda hari ini adalah makan pagi, menulis/presentasi, makan siang, menulis/presentasi, istirahat, makan malam, dan terakhir presentasi. lagilagi saya mengumpulkan tulisan paling akhir. tulisan yang sama dengan kemarin tetapi telah ditambahkan saran dari pemateri. saya lebih divonis malam ini. ketika peserta lain menuliskan sesuatu yang berbeda sedangkan saya menuliskan hal yang sama. apalagi malam ini ta masih bertahan sampai larut malam, biasanya setelah makan malam dia pulang. yang lebih membuat saya jengah adalah ta salah mengarahkan jalan pikirannya. dia tidak paham ketika saya membahas permasalahan ruang publik, ta lebih mengarahkan pada mnemonic. seperti ada sesuatu ketika pertanyaanpertanyaan tentang mnemonic ta ajukan. tapi semua itu saya jawab semampu saya. malam ini adalah malam terakhir. malam yang melegakan ketika semua saling berkata maaf, berfoto bersama. besok adalah akhir dari workshop yang sudah saya duga akan menjemukan.

sabtu pagi, 29 juli 2006

pagipagi it membangunkan saya dengan smsnya. saya selalu bermalasmalasan jika bangun tidur, tidak segera beranjak mandi, apalagi ini adalah hari terakhir di mana saya harus menghabiskan suasana yang menyenangikan di area sav puskat. rimbun bambu yang bereneka jenis, berbagai tanaman obat, sungai, anjungananjungan. semuanya begitu singkat. setelah mandi saya bergegas makan, semuanya telah siap untuk pulang.

it tak kunjung datang untuk menjemput. saya telah sms, juga telah menelepon, tapi it sepertinya mempermainkan saya. saya mencoba tenang, mengambil semua barang, mengunci kamar kepodang. sampai di area parkir motor, seseorang berdeham dari belakang. it. sejak kapan dia ada di sana. pasti sedari tadi telah memperhatikan saya yang gelisah. memberikan kunci pada panitia dan memilih sebuah buku tentang budaya bugis, saya ingin memilikinya.

menunggu panitia mencari daftar harga, saya dan it menunggu di sebuah gezebo yang cukup luas. it membawa coklat yang saya minta, berbincang, dan menunggu waktu. memperlihatkan peta yogya yang hanya seukuran a4, memperkenalkan yogya dari gambar, di mana letak uin, kosan it, rl, piyungan, pantaipantai, ugm, dan beberapa tempat yang berhubungan dengan sastra.

lama. akhirnya panitia datang membawa buku. saya membayarnya dan selesai sudah keterikatan saya dengan workshop. segera tinggalkan sinduharjo. kami adalah orang terakhir yang meninggalkan puskat. naik motor dan segera menunju kosan it. diperjalanan it menunjukkan beberapa tempat yang telah dijelaskan menggunakan peta. melewati ugm, uny, jalanan yang tak begitu padat, terik matahari, uin, dan akhirnya sampai juga ke kosan it.

siang hari, kamar beraroma apel

sampai di kosan ternyata sedang ada acara nyewu. banyak ibu yang sedang sibuk memasak, menyiapkan segalanya. selamat datang di kamar paling nyaman sedunia, begitu it berucap ketika membuka pintu. aroma apel begitu saja menyerbu penciuman saya. bukubuku, posterposter, kipasangin, dan segala macam membidai penglihatan saya. sempat tak enak juga memasuki kosan lakilaki hanya berdua. temanteman it sedang tidak ada semua. akhirnya saya tidak keluar kamar, lebih memilih tidur setelah menguraikan rencana beberapa hari ke depan, sebenarnya saya tidak tahu kapan akan kembali ke bandung. malam ini saya akan tidur di rumah cerpenis mat. dia baru saja menikah dengan er. ketika saya tidur, it pindah ke kamar sebelah.

sore hari, jalanan yogyakarta

setelah ashar kami berangkat meninggalkan wisma poetika. it mengantarkan saya ke toko buku tm. saya ingin tahu toko buku seperti apa yang dapat menyaingi gm, toko buku yang saya tahu dari peserta workshop. ternyata toko ini sangat luas dan memberikan potongan harga untuk semua buku yang dijual. cukup lama kami di sana, saya membeli beberapa buku yang di bandung tidak ada, it hanya membeli dua buku puisi dan tiga komik.

tujuan selanjutnya adalah gm. di jalanan saya baru dapat menemukan suasana yogyakarta, sepedasepeda, busbus besar, gedunggedung yang retak akibat gempa bumi. beberapa mall dilewati, dan saya sempat mengutarakan keinginan saya untuk memasuki mallmall itu, tak terduga reaksi it atas keinginan saya. dia sangatsangat tidak menyukai mall, bahkan dia memilih membiarkan saya masuk mall sendirian dan it menunggu di parkiran. beberapa kali saya bujuk tetap saja, it bereaksi sama. di gm kami hanya melihatlihat setelah itu kembali mengarungi jalanan yogyakarta yang mulai dingin. menuju masjid uin. it menunjukkan redaksi kedaulatan rakyat, malioboro, pasar beringharjo, taman budaya, tempat penjualan buku yang terkenal di yogya__shopping, taman pintar, semuanya hanya kami lewati karena waktu kami terbatas. sebelum pukul sembilanbelas harus sudah sampai piyungan, tempatnya mat.

masjid uin. kami bergegas menuju tempat wudhu. detik selanjutnya adalah azan isya, saya memilih berjamaah, sedangkan it berlalu. dia harus pinjam beberapa film di rental yang dipesan tuan rumah. aku tidak ikut. menunggu. akhirnya it datang juga, lagilagi naik motor. Berhenti sebentar untuk makan dan kembali melanjutkan perjalanan.

ternyata piyungan itu sangat jauh, butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai di sana dengan laju motor yang kencang. sebelum ke rumah mat, it mengajakku ke tempat tertinggi di yogya. jalanan berkelok berkalikali dilalui, mobilmobil besar, di sini baru terlihat sisa gempa. karena daerahnya dekat dengan bantul yang menjadi pusat gempa, rumahrumah di sepanjang jalan rusak berat. bahkan ada yang tersisa rangkanya saja. beberapa rumah coba dihuni dengan kaadaan yang sangat seadanya.

menikmati kunangkunang di puncak__yogya

sampai juga akhirnya entah dikelokan yang keberapa. it menepikan motor, turun dan mulai merokok. aku tidak turun dari motor, duduk menikmati lampulampu yang temaram jauh di bawah sana. aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran it saat itu. yang pasti dalam hatiku selalu kusandarkan nama tuhan, dan aku tidak pernah tahu mengapa garis hidup membawa aku sampai ke peristiwa ini. aku menyerahkan segalanya pada tuhan. aku sadarkan diri untuk selalu ingat, karena tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untukku.

beberapa sms masuk. setengah jam menikmati kunangkunang, dingin, dan deru mesinmesin kendara. tak ada apaapa. kami melanjutnya perjalanan, kembali lagi ke tikungantikungan itu. memasuki jalan kecil, gankgank yang tetap berkelok, hampar tanah yang tidak dapat aku tebak__sawah atau kebun__karena malam telah menggelapkan segalanya.

malam hari~rumah mat dan er

kami disambut p yang telah menanti sedari tadi di teras rumah. er segera menghampiriku berkenalan dan mengajak masuk. di dalam ada faj dan seorang lagi yang aku lupa namanya. tak berapa lama mat keluar. suguhan khas madura tersaji sudah. ngobrol sambil nonton film yang disewa it. tibatiba saja perutku sakit. aku masuk kamar yang sudah disediakan. perutku tidak biasanya sakit, mungkin karena seharian naik motor dan aku tidak biasa.

sakit yang kurasa mulai berkurang, aku tertidur. mataku terpejam, tapi pendengaranku tidak pernah tidur, aku takut di tempat asing. setiap ada langkah di koridor mataku terbuka.

minggu, 30 juli 2006

pagipagi sekali aku bangun (ah memang tidak tidur semalam tadi), shalat, mandi. melihatlihat koleksi buku mat dan keluarganya. di dapur er memasak.

siang nanti aku punya janji dengan mfa. teman yang menyapaku lewat email ini ingin sekali bertemu, begitu juga aku. setelah meminta pulang beberapa kali, akhirnya keinginan itu terwujud. satu jam sebelum tengah hari aku, it, dan p pulang ke nologaten. ternyata hampar tanah yang tak terlihat malam hari itu hanya berupa tanah yang ditanami sejenis palawija. banyak tendatenda didirikan di tanah itu.

kami bertiga naik bus ke terminal giwangan, dari terminal harus ganti bus. tujuan kami adalah kosan ama (teman cwi), aku dan mfa membuat janji pertemuan di sini. sampai di sana harus menunggu karena mfa belum datang. tak berapa lama. lagilagi bayanganku tentang sosok maya yang kini jadi nyata hancur. mfa sosok yang tinggi, rambut gondrong dan keriting kecilkecil datang dengan sepeda ontelnya. sepertinya dia gugup. kami pun berbincang, sangat kaku. aku juga bingung harus ngobrol tentang apa, untungnya ada it, p, yang membuat suasana tidak begitu kaku. sambil membahas koran minggu yang sebelumnya kami beli di jalan menuju tempat ama. karena mfa ada kegiatan lain, kami berpisah. pamit pada tuan rumah dan pulang dengan arah yang berbeda. aku tidak langsung pulang, tapi berbelok menuju ambarukma mall ditemani p. sekitar dua jam aku mengelilingi mall yang baru dibangun ini. retakan akibat gempa terlihat di sana sini. pulang ke kosan. ashar, mandi, istirahat, magrib, makan di angkringan.

aku bertemu hen di angkringan. seseorang yang baru kuketahui beberapa hari sebelum keberangkatanku ke yogya. secara tidak sengaja, ketika aku searching di internet aku menemukan hen yang sedang mencaricari diriku. hen ingin mengabarkan padaku perihal pemuatan puisiku di minggu pagi. jodoh kami begitu singkat, begitu saja bertemu tanpa harus ada perjuangan yang berarti. Hen bercerita, berkat puisiku yang dimuat di koran, dia berhasil memacari seorang perempuan dan beberapa bulan ke depan hen akan menikah. cerita ini membuat aku terbang. betapa tidak, puisiku, katakataku dapat membuat seseorang bersatu, bahkan sampai menikah. nyawa katakata.

setelah berpisah dengan hen, kami bertiga menuju blandongan. mfa menunjukkan tempat yang harus aku datangi ketika berada di yogya. sebuah tempat minum kopi dengan suasana yang sangat nyaman. gazebo. lesehan. mfa telah menunggu di sana. segera memesan kopi, sedangkan aku yang tak suka kopi memesan susu coklat. berempat duduk berempat melingkar. aku, mfa, p, dan it. berbagai hal kami ungkap dari tulisan, blog, lombalomba, dan lain hal. sampai duabelas malam kami bertahan.

senin, 31 juli 2006

jalanan sore itu cukup padat, pejalan kaki memenuhi trotoar. kami menunggu angkutan umum di depan masjid uin, mungkin setengah jam lebih. ternyata mobilnya sangat tua dan lajunya pun sangat lambat. tujun kami shopping, tempat penjualan buku. tempat ini sama dengan palasari di bandung. menjelajah shopping dan membeli beberapa buku.

magrib. makan di angkringan. melanjutkan perjalanan ke malioboro, rencananya aku akan membeli beberapa gelang dan pernakpernik lainnnya. sampai malioboro membeli sate di depan benteng, setelah itu menyusuri jalan dan memasuki malioboro mall. lagilagi it tidak ikut masuk, aku tidak tahu mengapa ia sangat enggan memasuki area kapitalis ini. berkeliling malioboro mall hanya membutuhkan waktu tak lebih dari setengah jam, di sini aku membeli beberapa buku. setelah itu keluar dan melanjutkan susur maloiboro sampai batas akhir.

sekitar pukul sepuluh kembali lagi ke depan benteng. di sini banyak kursi taman permanen, menghadap jalan raya yang mulai sepi. kami dudukduduk sambil menikmati bulan yang tak sempurna. setelah puas kami meninggalkan malioboro dan menuju keraton.

malam makin larut, jalanan begitu lengang, tak ada kendara yang melaju. kami berjalan menuju alunalun utara keraton yogyakarta. kemudian memasuki jalan sepi menuju alunalun selatan. jalanjalan di sini seperti labirin, masuk ke pangkal, berbelok, seperti tak menemu ujung. setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di alunalun selatan. dua pohon beringin menanti kami.

masangin. di antara dua beringin. sebuah ritual yang entah sejak kapan muncul, yaitu berjalan di antara dua beringin. jarak keduanya mungkin dua kali lebar jalan mobil. dengan mata tertutup siapa saja yang dapat mencapai tepi akan mendapat berkah dan keinginannya tercapai. dengan mata tertutup it jadi orang pertama yang lolos dari diorama gaib. Dia memintaku menemani langkahnya saat menyebrang. Yang kedua am kemudian p keduanya tidak dapat jalan lurus memecah jalur beringin. begitupun denganku. Aku tak dapat melewati dua beringin itu. langkahku berbelok. Ketika diulangi lagi hasilnya sama, aku berbelok ke kanan bahkan sempat berputar dua kali. Perasaanku sudah jalan lurus ke depan, tapi nyatanya tidak. keraton memang dipenuhi peristiwa magis.

selasa, 1 agustus 2006

tengah malam. makan di angkringan. saya memilih untuk tidak makan. perut saya tidak sedang lapar. hati mulai berkecamuk, perasaan ingin pulang menyerbu. saya tidak terbiasa begadang apalagi berada di luar ruangan. kirim sms. akhirnya mereka mengajak saya kembali ke alunalun utara. sebelum meninggalkan dua beringin itu kami mengulangi lagi tapi tetap saja saya gagal.

menuju alunalun utara. sepanjang jalan mencari masjid yang berperikemanusiaan, masjid yang membiarkan wcnya terbuka. saya tidak kuat ingin buang air kecil. untungnya ada am yang mau menemani saya masuk dari satu masjid ke masid yang lain. dua lakilaki yang lain begitu tak memerdulikan saya. sampai di alunalun utara kami tak menghentikan langkah. Kembali lagi ke jalan malioboro. duduk. mulai merasakan dinginya yogya. angin pagi. azan pertama. menunggu pagi.

saya kuat. ritual kepenyairan di yogya saya lewati dengan lancar. setelah shalat di masjid pasar beringharjo semua kelelahan. p tidur sambil duduk, it rebahan di kursi. aku coba membaca buku tapi tertidur juga. am membangunkan aku. mungkin tidak tahan dengan kantuknya am memilih jalanjalan ke arah utara.

makan di angkringan. antri di wc umum, entah angin jahat mana yang membuat kami semua harus buang air besar dalam waktu yang bersamaan.kembali ke kursi taman dan membagi tugas. it ke redaksi suara merdeka untuk ambil honor puisinya yang kemarin dimuat, aku dan dua lelaki lainnya ke pasar beringharjo.

aku membeli beberapa batik untuk oleholeh. setelah itu kembali ke kursi taman. it sudah menunggu di sana. beristirahat sebentar dan kembali melanjutkan rencana. barang dititipkan ke p yang menunggu di kursi, aku dan it pergi ke stasiun tugu melihat jadwal keberangkatan kereta. rencananya besok saya pulang ke bandung. sepanjang perjalanan banyak keinginan it diungkap. keinginannya memiliki bayi yang berumur enam bulan. saya hanya tersenyum mendengar keinginan it.

stasiun tugu. lama kami berbincang di sini. lagilagi tentangnya, menceritakan salah satu cerpennya yang terinspirasi dari stasiun ini, ketakutannya pada sebuah keberangkatan. beberapa kereta datang dan pergi. akhirnya kami tak jadi memesan tiket. meninggalkan stasiun dan melanjutkan perjalanan

kondisi tubuh saya mulai menurun. tidak tidur dan makan yang seadanya membuat saya pusing. kepala saya sakit. mata mulai berkunangkunang, dan gejala pingsan sudah saya rasakan. pulang ke kosan dengan mobil yang tua dan lajunya lambat.

sampai di kosan saya langsung membenahi semuanya. bukubuku, tas punggung, keinginan saya untuk pulang teramat besar. saya sudah tidak kuat lagi dengan suasana di kosan it. malam ini saya akan tidur di kos dah temen cwi. nanti sore dia akan menjemputku ke kosan it.

akhirnya 2 agustus saya pulang diantar it ke lempuyangan. lima detik lagi saya akan tertinggal kereta. sampai di stasiun kereta mau berangkat, saya cemas sedang tiket belum dibeli. it melepas kepergian saya dengan ujung matanya. dia benarbenar tidak tahan dengan keberangkatan. akh.. akhirnya saya pulang juga ke bandung dengan berlembarlembar kenangan.

pulang dari yogya kondisi tubuh menurun lagi, sempat masuk angin, tapi sekarang sudah sehat tetapi masih malas mengerjakan skripsi. kini saya menikmati kemalasan saya dengan sesekali menulis puisi dan membaca buku.

teteh berdagang apa dengan ibu? saya juga ada warung di rumah, warung kecil yang dijaga mama dan sesekali saya membantu.

mohon doanya agar skripsi saya selesai tahun ini.

SudutBumi, 16, 17, 18 Agustus 2006

salam

DeHa

nb: kata ganti orang yang saya gunakan sering berganti, bagimana enaknya saja ketika saya menulis.

saya sertakan beberapa pengumuman lomba. terus berkarya dan semoga ada kesempakan kita

untuk ketemu di jakarta akhir tahun ini. selamat mengirimkan karya!